Kamis, 20 Agustus 2009

Hadits palsu ttg malaikat jibril menjelang ramadhan

Setiap kali Ramadhan semakin menjelang, sering kita menerima dan memberi pesan mengucapkan selamat menyambut ramadan dan ada juga nasihat-nasihat yang boleh kita jadikan sebagai muhasabah pada diri kita, akan tetapi kita wajib berhati-hati juga karena dalam kita hendak berbuat kebajikan kita juga tidak terlepas dari membuat dosa kerana ketidaktelitian kita atas apa yang telah kita sebarkan, seperti yang telah diforwadkan melalui yahoo mesengger tentang sebuah hadis berkaitan doa Jibril dan diaminkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta para Sahabat. Hadis tersebut berbunyi:

Malaikat jibril Menjelang Ramadhan “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

* Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);

* Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;

* Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.” Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak3 kali.

Inilah hadis yang tidak diketahui kesahihannya!! Memang ada hadis yang mirip dengan hadits yang difowardkan itu namun isinya sangat berbeda. Hadis itu adalah seperti berikut. Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhuma:

:

أن النبي صلى الله عليه وسلم رَقَى المِنبر فَلما رَقَى الدَّرجة الأُولى قال : ( آمِين ) ثُم رَقى الثَانية فَقال : ( آمِينَ ) ثُم رَقى الثَالثة فَقال : ( آمِينَ ) فقالوا : يا رسول الله سَمعنَاك تَقولُ : ( آمينَ ) ثَلاث مَرات ؟ قال : ( لَما رَقيتُ الدَّرجةَ الأُولى جَاءِني جِبريلُ صلى الله عليه وسلم فَقال : شَقي عَبدٌ أَدركَ رمضانَ فانسَلخَ مِنهُ ولَم يُغفَر لَه فَقلتُ : آمِينَ ، ثُم قَال شَقي عَبدٌ أَدرك والدَيهِ أَو أَحدَهُما فَلم يُدخِلاهُ الجنَّةَ . فَقلتُ : آمينَ . ثُم قَال شَقي عَبدٌ ذُكرتَ عِندهُ ولَم يُصلِ عَليك . فَقلتُ : آمينَ )

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Amin, amin, amin”.

Para sahabat bertanya.”Kenapa engkau berkata amin, amin, amin, wahai Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’.

Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi itu tidak memasukkan dia ke syurga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’ “.

Kemudian Jibril berkata lagi.’Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’.” [Dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari di dalam Adab al-Mufrad dan dinilai Sahih Lighairihi oleh al-Albani di dalam Sahih Adab al-Mufrad – no: 644]

Isinya seakan-akan sama tetapi matan (isi kandungan) hadis tersebut ternyata berbeda dan hadis ini masyhur di dalam kitab-kitab yang membicarakan tentang Ramadhan. Namun kini nampaknya hadis yang tidak diketahui sahih ataupun tidak itu telah menjadi lebih terkenal dari hadis aslinya.

Para Sahabat sekalipun pernah hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak mengamalkan sikap bermudah-mudahan dalam mennyampaikan hadis selepas kewafatan Rasulullah. Mereka sangat teliti dan berhati-hati, berbeda sekali dengan kita pada hari ini,begitu mudah dan kebanyakan yang menyebarkan hadis itu sendiri tidak sadar bahawa tidak semua hadis itu sahih (authentic) hanya karena ada lafal “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda” atau “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan itu dan ini” terus kita sebarkan siap berserta emoticon senyuman tanpa teliti dan berhati-hati.

Para Sahabat takut menjadi orang yang banyak meriwayatkan hadis karena khawatir mereka terjerumus ke dalam kesilapan dan kesalahan, hingga akhirnya membawa mereka untuk berdusta ke atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, suatu perbuatan yang amat tercela dan mendapat ancaman yang sangat buruk daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. [Manna’ Khalil al-Qathan, Mabahats Ulumul Hadis (Cara Mudah Memahami Ilmu-Ilmu Hadis), ms. 66]

Ancaman yang dimaksudkan itu adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Barang siapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka. [Sahih Muslim – no: 3]


Sekiranya kita tidak pasti apabila menerima suatu hadis, kita ada tiga pilihan:

[1] Menyelidik dan menyemaknya bagi yang berkemampuan.

[2] Bertanya kepada yang lebih mengetahui terutama mengenai ilmu hadis .

[3] Berdiam diri / tidak menyebarkannya sekiranya tidak mampu melakukan kedua-dua perkara diatas sehinggalah telah jelas hujah bahwa hadis tersebut sahih.

Contohilah sahabat yang begitu berhati-hati dalam meriwayatkan hadis kerana khuatir terjerumus dalam ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ingatlah Firman Allah Subhana wa Ta’ala:

ووَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُول

Dan janganlah engkau mengikut apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya; sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta hati, semua anggota-anggota itu tetap akan ditanya tentang apa yang dilakukannya. [al-Isra’ 17:36]

Minggu, 22 Februari 2009

Kritik gambar2 "Bukti Kebesaran Allah"

Saya 'nemu' kritik gambar/foto bukti kebesaran Allah. Ada beberapa foto yang menurut hasil analisa ternyata bukan asli alias direkayasa. Hmm bagus juga nih, kita jadi lebih kritis. Walaupun mungkin tujuannya baik tapi Allah tentu tidak berkenan kebesarannya dibuktikan dengan dipaksakan lewat hal-hal yang palsu.

Untuk lebih lengkapnya silahkan lihat di http://al-habib.tripod.com/bantahan/

Jumat, 28 November 2008

Nulis lagiii


Akhir-akhir ini rasanya saya jd manusia paling malas & paling bodoh sedunia! Kerjaan yang sebenarnya dari dulu juga itu-itu juga rasanya kok jadi buanyak sekali. Padahal setahun yang lalu saya sendirian di sini, dan semuanya beres bahkan masih sempat aktif nulis dan posting2 di blog. Sekarang, saya dibantu seorang teman. Tapi yang terjadi saya terlalu tergantung sama dia, mengandalkan dia. Hasilnya, sekarang dia lebih pintar dari saya .

Beberapa hari yang lalu seorang teman, kaka tingkat pas kuliah ngasih tahu klo barusan post comment di blog ini. Saya jadi tersentak, knp saya ga tahu?

Rasanya pingin nangis, saya begitu 'menikmati' kemalasan dalam situasi yang nyaman.

Hari ini, 1 Dzulhijjah 1429 H, saya canangkan untuk kembali seperti dulu lagi!

Selasa, 26 Agustus 2008

Kondisi Finansial Rasulullah

Benarkah Rasulullah miskin?
Saya sudah lama ingin menulis artikel ini, tapi baru sempat sekarang. Biasa (sok) sibuk he he. Selama ini kita sering membaca biografi Rasulullah Muhammad saw yang makannya hanya roti, jarang beliau makan daging, juga beliau pernah puasa sampai tiga hari karena tidak ada makanan di rumah beliau. Beliau juga menambal bajunya sendiri dan tidak malu memakai baju tambalan. Tempat tidur juga hanya dari pelepah korma kasar sampai kalau bangun tidur membekas di pipi. Dari kondisi tersebut kesan yang kita tangkap kemudian seringkali adalah bahwa beliau miskin. Padahal yang sebenarnya tidak demikian, Rasulullah adalah orang yang sangat kaya. Kenapa saya berani bilang "sangat"? Mungkin tidak banyak orang yang tahu kalau mas kawin Rasulullah waktu menikah dengan Khadijah adalah 100 ekor unta. Kalau dikurskan dengan nilai sekarang, jika seekor unta harganya 5 juta maka mas kawin Rasulullah jumlahnya 500 juta. Bukankah hanya orang yang sangat kaya yang mampu memberikan mas kawin sebesar itu? Pada haji wada' Rasulullah juga kembali menyembelih 100 ekor unta, yang seekor bahkan disembelih oleh Rasulullah sendiri.

Rasulullah adalah seorang entrepeneur sejati.
Rasulullah sudah menggembala kambing sejak masih kecil. Pada usia 9 tahun (menurut riwayat lain 12 tahun) beliau sudah diajak pamannya Abu Thalib mengikuti kafilah saudagar berdagang ke negeri Syiria. Pada usia 20 beliau sudah dipercaya membawa barang dagangan sendiri ke negeri Syam, Syiria, dan lain-lain. Mungkin kita mendengar biasa saja kisah tersebut, seperti juga saya dulu merasa biasa mendengarnya. Tapi coba kita telaah lebih dalam dengan membandingkan kondisi jaman sekarang. Sekarang ini kalau seseorang melakukan perdagangan antar negara, bukankah berarti dia itu seorang eksportir/importir? Mari kita bayangkan bersama, saat ini ada berapa anak-anak berusia 9 tahun yang bepergian keluar negeri untuk belajar berdagang? Kalau yang bepergian untuk rekreasi atau tamasya sih banyak dan tidak istimewa sama sekali. Tapi nabi pergi pada usia sedini itu untuk belajar berdagang!

Mari kita lanjutkan imajinasi kita. Pada usia 20 tahun nabi telah dipercaya dan berpengalaman melakukan perdagangan antar negara. Sekali lagi, ada berapa banyak pemuda berusia 20 tahun yang telah "berpengalaman" dalam ekspor impor? Saya beri penekanan pada kata berpengalaman karena saat ini juga ada pemuda yang melakukan perdagangan antar negara namun masih dalam taraf belajar. Dan itupun jumlahnya tidak banyak! Pada usia sekian bahkan masih sangat banyak yang kuliah dengan mengandalkan pasokan biaya dari orang tua.

Pada usia 25 tahun, Rasulullah sudah menjadi kepercayaan Khadijah. Dikomparasikan dengan kondisi sekarang, bukankan itu sama dengan posisi "Vice President"? Sekali lagi, ada berapa gelintir pemuda berusia 25 tahun yang sudah menjadi vice president perusahaan multi nasional? Tidak banyak bukan? Dalam posisi demikian, mustahil Rasulullah berpenghasilan kecil.

Kehidupan sehari-hari Rasulullah
Pola hidup sehari-hari Rasulullah sebenarnya juga mencerminkan bahwa beliau adalah orang yang cukup secara ekonomi. Beliau rutin meminum madu minimal 1 sendok setiap hari. Makanan kesukaan beliau adalah kurma ajwa, yang harganya (sekarang) antara 500 - 600 ribu rupiah per kg. Kalau kita di Indonesia berzakat fitrah dengan beras 2,5 kg atau kurang lebih setara 15 ribu rupiah, maka zakat fitrah rasulullah adalah 2,5 kg kurma yang biasa dimakan beliau yaitu kurma ajwa. Berarti zakat beliau setara 1 juta 250 ribu rupiah! Bandingkan perbedaannya dengan zakat fitrah kita. Beliau sangat rajin bersodaqoh dan tidak ada kisah yang menyebutkan beliau mempunyai hutang. Kalau ada tamu, jamuan yang diberikan selalu lebih dari cukup dan hal tersebut pernah dikisahkan oleh tamu beliau. Beliau juga mampu mencukupi kehidupan istri-istri beliau yang lebih dari satu dan tidak ada satu kisahpun yang menceritakan ada istri beliau yang bekerja mencari nafkah tambahan.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah Rasulullah tidak miskin tapi beliau memilih gaya hidup sederhana, dimana hartanya lebih banyak digunakan untuk perjuangan agama daripada hidup bermewah-mewah. Beliau tidak bisa makan enak sedangkan ada kaum muslimin yang kelaparan. Sang Al-Amin mencintai ummatnya lebih dari dirinya sendiri. Mengutip penuturan muballigh kondang ustadz Zainuddin MZ, ada satu doa yang sering di panjatkan Rasulullah: "Ya Allah, hidupkan aku dalam kondisi miskin, matikanlah aku dalam kondisi miskin, dan kumpulkanlah aku di akhirat dengan orang-orang mskin". Tidak mungkin seorang yang miskin memanjatkan doa seperti itu bukan? Saatnya kita belajar meneladani gaya hidup manusia paling mulia tersebut, semoga Allah mencatatnya sebagai amal ibadah, amin.

Senin, 31 Maret 2008

Gaji Yang Tak Jelas*

Gaji Yang Tak Jelas*

Hari itu Sulaiman bin Ja’far Al-Ja’fari bersama-sama Imam Ridha, keluar untuk suatu keperluan. Menjelang malam, Imam mengajaknya datang dan menginap di rumah.

Setibanya disana, Imam melihat pegawai-pegawainya tengah sibuk membatik. Nampak pula diantara mereka seorang asing yang tidak dikenal.

“Siapa dia?” tanya Imam kepada para pegawainya.
“Seorang buruh yang kami ambil dan diupah,” jawab mereka.
“Baik! Berapa upah yang kalian tentukan untuknya?”
“Nanti akan kami berikan seberapa yang dia rela.”

Kemarahan nampak di wajah Imam. Dia pergi mengambil cambuk untuk mengajar kecerobohan pegawai-pegawainya. Sulaiman berkata, “Imam, kenapa Anda harus marah?”

“Telah berkali-kali kukatakan kepada mereka agar jangan mengupah seseorang selagi imbalan gajinya belum ditentukan. Pertama-tama tentukan dahulu upahnya, baru kemudian dia bekerja. Kalau gaji seseorang telah ditentukan sebelumnya, kalaupun akan ditambah dengan uang ekstra tidaklah apa-apa; dan dia, pada gilirannya, akan sangat berterima kasih atas itu. Disamping itu hubungan kalian akan bertambah erat, dan dia akan sangat menyukai kalian.”

“Seandainya kalian tetap hanya memberikan upah sekadar upah yang telah ditentukan sebelumnya, dia pun masih akan rela menerimanya. Ini berbeda dengan seseorang yang bekerja tanpa mengetahui gaji yang akan diterimanya. Karena seberapa banyak yang kalian berikan kepadanya, dia tetap tak akan percaya bahwa itu adalah hadiah dari kalian, bahkan dia menduga bahwa kalian telah memberi upah lebih sedikit dari yang seharusnya dia terima.”

*Bikhar Al-Anwar, jilid XII, hal 31
(Dikutip dari Kisah Sejuta Hikmah, oleh Murtadha Muthahhari, terbitan Pustaka Hidayah)

Benarkah Quran Menetapkan Bahwa Matahari Mengelilingi Bumi?

Benarkah Quran Menetapkan Bahwa Matahari Mengelilingi Bumi?

eramuslim-Senin, 31 Mar 08 07:54 WIB

Kirim teman

Saya membaca fatwa ulama yaitu Syeikh Utsaimin yang menegaskan bahwa zhahir ayat Quran mengatakan bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi. Pandangan ini menurut beliau berdasarkan banyak ayat Quran, sehingga kita tidak boleh berpandangan sebaliknya bahwa bumi-lah yang mengelilingi matahari. Bahkan menurut beliau, suat hari nanti para ilmuwan akan berbantahan tentang benarkan bumi mengitari matahari.

Mohon klarifikasi dari ustadz, benarkah ulama sekelas Syaikh Utsaimin mengatakan hal itu? Dan benarkah memang al-Quran secara tegas menyatakan hal itu.

Terima kasih jazakamullahu khairal jaza'.

Erti Manangku
ertia

Jawaban

Assalamu a'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Setiap ulama tentu berhak untuk mengeluarkan pendapat dan fatwanya. Juga berhak untuk diikuti fatwa dan pendapatnya itu oleh umat Islam.

Namun tidak ada satu pun manusia yang dijamin oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW selalu pasti benar dalam segala halnya. Bahkan para shahabat yang mulia dan dijamin masuk surga sekalipun, terkadang tidak saling sependapat dalam banyak masalah antara sesama mereka. Perbedaan pandangan di kalangan shahabat nabi SAW menunjukkan bahwa seseorang bisa saja punya pendapat yang berbeda dengan saudaranya, tanpa harus terjadi permusuhan atau saling ejek di antara mereka.

Para ulama sejak masa salaf dahulu, banyak yang berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang benar dalam ijtihad dan di antaranya ada yang salah. Bahkan Imam As-Syafi'i rahimahullah pernah mengoreksi pendapat-pendapatnya yang telah ditetapkan sebelumnya. Sehingga ada dua qaul dalam mazhabnya, yaitu qaul qadim ketika beliau tinggal di Iraq dan qaul jadid ketika beliau tinggal di Mesir.

Bahkan para ulama di level mujtahid mutlak sekalipun tidak pernah mewajibkan manusia untuk hanya berguru kepada dirinya sendiri saja. Bagi mereka, bila ada orang yang ingin berpendapat sebagaimana pendapat dirinya, boleh saja. Tapi bila menolak dan mengambil pendapat ulama lain, mereka ikhlas dan sama sekali tidak sakit hati.

Bila di masa sekarang ini ada pendapat dan pandangan dari ulama tertentu yang barangkali tidak kita sejalan, tanpa mengurangi rasa hormat kepada beliau, boleh saja hal itu ditolak dan tidak berdosa. Asalkan ada pembanding dari pendapat ulama lainnya yang dirasa lebih kuat hujjahnya.

Matahari Mengelilingi Bumi?

Benar bahwa salah satu di antara ulama yang berpendapat bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi adalah Syeikh Al-Utsaimin. Keluasan ilmu beliau dan kedalamannya dalam masalah agama, tentu tidak perlu diragukan lagi. Namun bukan berarti beliau harus selalu benar dalam semua pendapatnya.

Apalagi yang beliau sampaikan bukan terkait dengan masalah umurdiniyyah, melainkan tsaqafah umum terkait dengan sebuah fenomena alam yang di dalam Al-Quran disampaikan lewat isyarat. Bukan lewat pernyataan yang bersifat eksplisit. Artinya, kesalahan dalam memahami hal-hal seperti ini tidak berpengaruh pada masalah aqidah dan syariah, namun lebih kepada informasi tentang fenomena alam dan ilmu pengetahuan.

Kalau kita teliti lebih dalam, sebenarnya di dalam Al-Quran tidak pernah ada ayat yang bunyinya secara tegas menyebutkan bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi. Penekanannya di sini pada kalimat: mengelilingi bumi. Kalau ayat yang menunjukkan bahwa matahari bergerak dan digerakkan oleh Allah SWT, memang banyak bertaburan di banyak tempat dalam Al-Quran. Akan tetapi tidak ada satupun yang menyebutkan dengan mengelilingi bumi.

Yang ada hanya pernyataan bahwa matahari itu bergerak, beredar, terbit, terbenam, condong, pergi, datang dan sejenisnya. Semua pernyataan itu tentu tidak boleh kita tolak. Namun sekali lagi, Al-Quran tidak pernah menyebutkan bahwa matahari MENGELILINGI bumi. Tidak ada ayat yang bunyinya: asyamsu taduru haulal ardhi.

Walhasil, secara zahir nash tidak ada pernyataan di dalam Al-Quran bahwa matahari mengelilingi bumi.

Kalau pun matahari disebutkan telah bergerak dalam arti terbit, terbenam, condong dan sebagainya, tidak ada seorang muslim pun yang menolaknya. Karena zhahir nash memang mengatakan demikian. Perhatikan ayat-ayat berikut ini:

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri. (QS al-Kahfi: 17)

Namun semua yang terkait dengan informasi matahari itu sangat dikaitkan dengan pandangan subjektif manusia. Di mana Allah SWT memang berfirman untuk umat manusia. Maka boleh saja disebutkan bahwa matahari itu terbit, tentunya dari sudut pandang manusia. Padahal sesungguhnya, matahari tidak pernah pergi menghilang dari wujudnya, dia hanya menghilang dari pandangan mata kita saja.

Untuk lebih jelasnya, silahkan perhatikan ayat berikut ini:

Hingga apabila dia telah sampai ke tempat ter benam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata, "Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka." (QS Al-Kafhi: 86)

Kalau kita lihat zhahir nash ayat ini, jelas sekali disebutkan bahwa ada tempat terbenamnya matahari, di mana matahari bukan hanya terbenam, tapi disebutkan tempatnya masuk ke dalam bumi, yaitu di laut yang berlumpur hitam. Tetapi apakah matahari turun ke bumi dan masuk ke dalam laut? Tentu tidak bukan. Ini hanya pandangan subjektif seseorang yang melihat seolah-olah matahari masuk ke dalam laut. Padahal hakikatnya matahari berjarak 8 menit perjalanan cahaya dari bumi.

Di dalam dalil lainnya yang juga shahih, disebutkan hal yang lebih aneh lagi. Yaitu matahari pergi ke 'Arsy.

Nabi SAW berkata kepada Abu Dzar ketika matahari terbenam. “Apakah engkau tahu ke mana dia pergi?” Abu Dzar menjawab, “Allah dan rasulnya lebih mengetahui.” Nabi berkata, “Sesungguhnya dia pergi bersujud di bawah Arsy dan meminta izin lalu diizinkan. Dan dia meminta izin dan tidak diizinkan. Kemudian dikatakan, kembalilah ke tempat kamu muncul dan terbenamlah dari arah baratnya.”

Kalau memang hakikatnya matahari pergi pulang ke arsy tiap hari, dalam logika kita manusia di muka bumi, tentu harus ada masa dalam 24 jam bumi tidak mendapat sinar matahari dan juga alam semesta. Namun separuh manusia yang melata di muka bumi ini selalu dalam keadaan melihat matahari. Matahari tidak pernah tenggelam dari pandangan seluruh manusia di bumi.

Matahari hanya kelihatan terbit buat segelintir orang yang kebetulan berada pada posisi matahari terbit. Demikian juga matahari hanya terbenam dalam pandangan manusia yang kebetulan berada di belahan bumi yang sebentar lagi membelakangi matahari. Dan semua itu terjadi bergantian. Tapi sesungguhnya matahari tidak pernah absen dari kita. Yang terjadi sesungguhnya, manusia lah yang absen dari matahari dengan membelakanginya.

Dan karena Al-Quran bukan kitab astronomi, bahkan punya unsur sastra yang tinggi, maka sah-sah saja semua ungkapan yang seolah-olah menggambarkan bahwa matahari melakukan semua gerakan itu. Tanpa harus terjebak untuk menjelaskannya secara astronomi.

Seperti ungkapan indah Al-Quran tentang malam dan siang yang saling berkejaran, apakah kita mau artikan bahwa malam dan siang itu seperti dua anak kecil main kejar-kejaran atau main petak umpet? Tentu tidak, bukan? Ungkapan berkejaran itu adalah gaya bahasa yang indah, tapi jangan dipahami terlalu teknis dan sederhana.

Bahkan di dalam Al-Quran bertabur ayat yang punya gaya ungkapan bahasa yang indah, kadang sampai terasa aneh. Misalnya, uban yang tumbuh di kepala nabi Zakaria, disebutkan dengan ungkapan khas yaitu uban berkobar di kepala. Berkobar itu kan sesungguhnya sifat dari api. Tetapi apakah benar kepala nabi Zakaria itu terbakar? Tentu tidak, bukan?

Ia berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah berkobar dengan uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo'a kepada Engkau, ya Tuhanku." (QS Maryam: 4)

Kebenaran Ilmu Pengetahuan

Namun lepas dari perbedaan pendapat dalam memahami nash Quran, kita pun harus tahu bahwa kebenaran dalam ilmu pengetahuan pun tidak pernah mutlak. Setiap kali selalu saja ada teori yang tumbang dengan teori baru. Setiap saat selalu saja muncul penemuan dan kebenaran baru, untuk sampai saatnya akan tumbang digantikan dengan yang baru.

Apa yang kita yakini sebagai kebenaran empiris tentang ilmu astornomi, sangat kita yakini suatu hari akan tumbang dengan fakta terbaru.

Wallau a'lam bishshawab wassalamu a'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Rabu, 26 Maret 2008

Pengenalan Singkat Terhadap Al-Hadis

hasil ngaji hari minggu, mudah-mudahan bermanfaat. saya yakin masih banyak yang belum tahu 

                      Pengenalan Singkat Terhadap Al-Hadis

(M. Hasyim Manan)

 

A.     Asal-usul Ajaran Islam

1.      Wahyu (perennial) : 1.1. Al-Qur’an (wahyu redaksional)

1.2. Al-Hadis (wahyu non redaksional)

2.      Akal (rasional)       : 2.1. Ijtihad (penemuan berdasar ajaran Islam)

 

B.     Pengenalan Singkat Terhadap Al-Hadis

1.      Pengertian : Kutipan dari Nabi Muhammad saw. Baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’il) atau persetujuan dengan sikap diam (taqrir)

2.    Karena kutipan, validitas (keabsaahannya) sangat tergantung kepada :

2.1.  Kondisi pihak yang mengutip atau yang meriwayatkan (rowi)

2.2.  Kondisi hubungan antar rowi (sanad)

2.3.  Kondisi materi yang dikutip (matan)

3.    Kesepakatan ahli hadis, bahwa hadis yang boleh menjadi sumber adalah :

3.1.  Hadis sohih, artinya 2.1. dan 2.2. dan 2.3. tidak ada yang cacat, artinya para periwayatnya semua jujur dan kuat hafalannya (tsiqoh), rangkaiannya atau sanadnya bersambung, dan isinya (matan) tidak janggal dan tidak bertentangan dengan yang lebih kuat.

3.2.  Hadis hasan, artinya 2.1. terdapat kekurangan,yakni pihak yang mengutip kurang cermat (kurang dlobith).

4.    Hadis do’if (lemah) tidak dapat dijadikan sumber penetapan ajaran Islam. Kalau hanya untuk memuji suatu amalan yang sudah ada, hadis doif boleh dipakai (fadlilatul a’mal).

Catatan : Suatu hadis dho’if, bila banyak data pendukung dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an atau didukung tingkatan dalil yang lebih tinggi (hadis shohih atau al-Qur’an) bias menjadi hadis hasan bighoiri tapi tetap tidak bisa dipakai sebagai sumber penetapan ajaran Islam. Contoh : hadis “annadhofatul minal iman” termasuk dhoif tapi di al-Qur’an banyak anjuran tentang kebersihan, sedangkan hadis “husbul wathon minal iman” sepenuhnya dhoif, tidak bisa dijadikan pegangan.

5.    Kedudukan Hadis terhadap al-Qur’an :

5.1.  Sebagai penjelasan (al-bayaan)

5.2.  Sebagai penetapan baru diluar al-Qur’an (al-istiqlal)

 

C.     Literatur Hadis

1.    Kutipan dari Nabi Muhammad saw. Dikumpulkan oleh ahli Hadis sejak abad pertama, dalam literatur yang disebut kitab hadis.

Induk kitab hadis ada tujuh yaitu :

1.1.  Al-Jami’us Sahih

1.1.1.   Sohih al-Bukhori

1.1.2.   Sohih Muslim

1.2.  Al-Sunan

1.2.1.   Sunan Abi Dawud

1.2.2.   Sunan Al-Tarmidzi

1.2.3.   Sunan Al-Nassa’i

1.2.4.   Sunan Ibnu Majah

1.3.  Al-Musnad

1.3.1.   Musnad Imam Ahmad

2.      Disebut Induk Kitab Hadis (ummabatu kutubil hadis) atau kitab tujuh (kutubus sab’ah) karena menurut asumsi para ahli hadis, kumulasi isi dari tujuh kitab itu diperkirakan sudah mencakup semua qoul fi’il dan taqrir Nabi Muhammad saw.

D.     Literatur Tambahan :


1.      Sunan al-Damiri

2.      Al-Muwatto’

3.      Ibnu Khuzaimah

4.      Ibnu Hibban

5.      Al-Baihqi Sughro

6.      Al-Baihqi Kubro

7.      Ibnu Abi Syaibah

8.      Majma al-Zawa’id

9.      Musnad Abu Dawud al-Toyalisi

10.  Mustadrok al-Hakim

11.  Musnad al-Humaidi

12.  Musnad al-Syihab

13.  Musnad Imam al-Syafi’I

14.  Musnad Imam Abu Hanifah

15.  Al-Daroqutni

16.  Musnad Ishaq bin Rohawaihi

17.  Musnad Abi Ya’la

18.  Musnad al-Ja’idi

19.  Misykat al-Masobih

20.  Muntakhob Abdu bin Humaid

21.  al-Targhib wa al-Tarhib

22.  al-Fathul Kabir

23.  Muntaqo Ibnu al-Jarud

24.  Faidul Qodir

25.  Al-Adzkar

26.  Musnad al-Haris

27.  Makarim al-Akhlaq

28.  Al-Durr al-Muntasiroh

29.  Al-Jihad

30.  al-Ilm

31.  Fado’il al-Sohabat

32.  Al-Lu’lu’ wal Marjan

33.  Misbah al-Zujajah

34.  Jami’ al-Hadis wa al-Marosil

35.  Al-Musqosidul Hasanah

36.  Musnad al-Syamiyyin

37.  Sunan al-Nassa’i Kubro

38.  Al-Hadis al-Qudsiyah

39.  Misykat al-Masobih

40.  Al-La’aliul Masnuah

41.  Al-Masnu’

42.  Al-Asror al-Marfu’ah

43.  Al-Asar al-Marfu’ah

44.  Al-Jidd al-Hasis

45.  Al-Masnu’at

46.  Al-Lu’lu’ al-Marsu’

47.  Al-Nukhbatul Bahiyah

Catatan : Kitab 40 – 47 merupakan kumpulan hadis dho’if

Surabaya, 16 Shofar 1429 H/24 Februari 2008 M

Berkah Menepati Janji

Contoh Kecil Berkah Menepati Janji Sudah beberapa hari ini putriku yang kedua merengek minta diantar pakai motor. Bibirnya monyong saa...