Selasa, 26 Agustus 2008

Kondisi Finansial Rasulullah

Benarkah Rasulullah miskin?
Saya sudah lama ingin menulis artikel ini, tapi baru sempat sekarang. Biasa (sok) sibuk he he. Selama ini kita sering membaca biografi Rasulullah Muhammad saw yang makannya hanya roti, jarang beliau makan daging, juga beliau pernah puasa sampai tiga hari karena tidak ada makanan di rumah beliau. Beliau juga menambal bajunya sendiri dan tidak malu memakai baju tambalan. Tempat tidur juga hanya dari pelepah korma kasar sampai kalau bangun tidur membekas di pipi. Dari kondisi tersebut kesan yang kita tangkap kemudian seringkali adalah bahwa beliau miskin. Padahal yang sebenarnya tidak demikian, Rasulullah adalah orang yang sangat kaya. Kenapa saya berani bilang "sangat"? Mungkin tidak banyak orang yang tahu kalau mas kawin Rasulullah waktu menikah dengan Khadijah adalah 100 ekor unta. Kalau dikurskan dengan nilai sekarang, jika seekor unta harganya 5 juta maka mas kawin Rasulullah jumlahnya 500 juta. Bukankah hanya orang yang sangat kaya yang mampu memberikan mas kawin sebesar itu? Pada haji wada' Rasulullah juga kembali menyembelih 100 ekor unta, yang seekor bahkan disembelih oleh Rasulullah sendiri.

Rasulullah adalah seorang entrepeneur sejati.
Rasulullah sudah menggembala kambing sejak masih kecil. Pada usia 9 tahun (menurut riwayat lain 12 tahun) beliau sudah diajak pamannya Abu Thalib mengikuti kafilah saudagar berdagang ke negeri Syiria. Pada usia 20 beliau sudah dipercaya membawa barang dagangan sendiri ke negeri Syam, Syiria, dan lain-lain. Mungkin kita mendengar biasa saja kisah tersebut, seperti juga saya dulu merasa biasa mendengarnya. Tapi coba kita telaah lebih dalam dengan membandingkan kondisi jaman sekarang. Sekarang ini kalau seseorang melakukan perdagangan antar negara, bukankah berarti dia itu seorang eksportir/importir? Mari kita bayangkan bersama, saat ini ada berapa anak-anak berusia 9 tahun yang bepergian keluar negeri untuk belajar berdagang? Kalau yang bepergian untuk rekreasi atau tamasya sih banyak dan tidak istimewa sama sekali. Tapi nabi pergi pada usia sedini itu untuk belajar berdagang!

Mari kita lanjutkan imajinasi kita. Pada usia 20 tahun nabi telah dipercaya dan berpengalaman melakukan perdagangan antar negara. Sekali lagi, ada berapa banyak pemuda berusia 20 tahun yang telah "berpengalaman" dalam ekspor impor? Saya beri penekanan pada kata berpengalaman karena saat ini juga ada pemuda yang melakukan perdagangan antar negara namun masih dalam taraf belajar. Dan itupun jumlahnya tidak banyak! Pada usia sekian bahkan masih sangat banyak yang kuliah dengan mengandalkan pasokan biaya dari orang tua.

Pada usia 25 tahun, Rasulullah sudah menjadi kepercayaan Khadijah. Dikomparasikan dengan kondisi sekarang, bukankan itu sama dengan posisi "Vice President"? Sekali lagi, ada berapa gelintir pemuda berusia 25 tahun yang sudah menjadi vice president perusahaan multi nasional? Tidak banyak bukan? Dalam posisi demikian, mustahil Rasulullah berpenghasilan kecil.

Kehidupan sehari-hari Rasulullah
Pola hidup sehari-hari Rasulullah sebenarnya juga mencerminkan bahwa beliau adalah orang yang cukup secara ekonomi. Beliau rutin meminum madu minimal 1 sendok setiap hari. Makanan kesukaan beliau adalah kurma ajwa, yang harganya (sekarang) antara 500 - 600 ribu rupiah per kg. Kalau kita di Indonesia berzakat fitrah dengan beras 2,5 kg atau kurang lebih setara 15 ribu rupiah, maka zakat fitrah rasulullah adalah 2,5 kg kurma yang biasa dimakan beliau yaitu kurma ajwa. Berarti zakat beliau setara 1 juta 250 ribu rupiah! Bandingkan perbedaannya dengan zakat fitrah kita. Beliau sangat rajin bersodaqoh dan tidak ada kisah yang menyebutkan beliau mempunyai hutang. Kalau ada tamu, jamuan yang diberikan selalu lebih dari cukup dan hal tersebut pernah dikisahkan oleh tamu beliau. Beliau juga mampu mencukupi kehidupan istri-istri beliau yang lebih dari satu dan tidak ada satu kisahpun yang menceritakan ada istri beliau yang bekerja mencari nafkah tambahan.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah Rasulullah tidak miskin tapi beliau memilih gaya hidup sederhana, dimana hartanya lebih banyak digunakan untuk perjuangan agama daripada hidup bermewah-mewah. Beliau tidak bisa makan enak sedangkan ada kaum muslimin yang kelaparan. Sang Al-Amin mencintai ummatnya lebih dari dirinya sendiri. Mengutip penuturan muballigh kondang ustadz Zainuddin MZ, ada satu doa yang sering di panjatkan Rasulullah: "Ya Allah, hidupkan aku dalam kondisi miskin, matikanlah aku dalam kondisi miskin, dan kumpulkanlah aku di akhirat dengan orang-orang mskin". Tidak mungkin seorang yang miskin memanjatkan doa seperti itu bukan? Saatnya kita belajar meneladani gaya hidup manusia paling mulia tersebut, semoga Allah mencatatnya sebagai amal ibadah, amin.

Tidak ada komentar:

Berkah Menepati Janji

Contoh Kecil Berkah Menepati Janji Sudah beberapa hari ini putriku yang kedua merengek minta diantar pakai motor. Bibirnya monyong saa...