Tampilkan postingan dengan label ceritaringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritaringan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Oktober 2010

Catatan dari Thailand

Weekend kemarin saya dapat kesempatan jalan-jalan ke Thailand dari kantor. Sebenarnya agak kurang minat karena sebelum berangkat mesti ada acara performance show mewakili kanwil, ada nyanyi-nyanyi segala, dan itu saya tidak suka. Apalagi masih ditambah dengan sexy dancers dengan busana pantai. Tapi setelah acara itu terlewati saya fokus ke Thailand, apa kira-kira yang akan saya temui disana ya? Maklum, ini pertama kali saya pergi ke negeri orang.

Masuk di pesawat Thai Airways yang merupakan maskapai best three in Asia dan best five in the world, kesan saya biasa saja. Malah saya 'kebagian' pramugari yang cantik tapi tidak bisa tersenyum dan sepertinya ogah ngobrol atau berinteraksi dengan penumpang. Setiap kali menanyakan sesuatu, dia berbicara seperti robot. Seperti waktu menawarkan minum kopi atau teh, dia hanya bilang : “Coffee or tea?” tanpa ekspresi. Saya sebetulnya mengharap tawaran yang lebih bersahabat, seperti “Would you like coffee or tea, sir?”. Saya jadi iri pada baris kanan yang dilayani pramugara botak namun sangat ramah dan komunikatif. Satu yang baru buat saya, tawaran minuman keras! Sebagai muslim saya jelas menolak, namun beberapa teman lain yang juga muslim malah bersemangat dengan alasan coba-coba. I hate that!

Setelah perjalanan tiga jam yang dingin, sampai juga saya di Bangkok International Airport yang baru, Bandara Suvarnabhumi. Merasa akrab dengan kata-kata itu? Jangan heran, jaman dulu kebudayaan kerajaan budha Indonesia satu sumber dengan Thailand. Bandara ini dibangun pemerintah untuk menggantikan bandara internasional lama, Don Muang. Kapasitas Don Muang sebesar 14 juta penumpang per tahun tidak lagi memadai untuk menampung penumpang, maka dibangunlah bandara baru dengan kapasitas 24 juta penumpang per tahun. Saya kagum dengan bandara baru ini, luas, canggih, rapi, dan tentu saja, bersih. Sangat jauh dengan bandara Soekarno Hatta di Jakarta. Satu hal yang menarik perhatian saya, jalan di dalam bandara ini dirancang khusus agar dapat dilewati mobil khusus bandara, mirip mobil golf. Kegunaan mobil ini untuk mengantar dan menjemput penumpang yang mepet dengan jadwal keberangkatan pesawat. Jika ada penumpang yang baru masuk boarding sedangkan pesawat sudah hampir siap, petugas di bagian boarding akan menghubungi petugas di mobil untuk ‘melarikannya’ ke gate keberangkatan. Jadi tidak kita temukan lagi penumpang berlari-lari tergopoh-gopoh sambil menenteng tas menuju gate.

Setelah keluar bandara, kami seluruh rombongan naik bus yang telah dipersiapkan. Sejenak saya mengamat-amati suasana sekitar. Pandangan saya tertuju pada dua pria dan seorang wanita yang berjalan menghampiri temannya. Ketika bertemu, mereka saling bersalaman namun saat dengan wanita itu para pria tidak bersalaman namun saling mengatupkan tangan di depan dada, salam khas Thailand. Mengejutkan, negeri yang terkenal dengan industry sexnya, ternyata mempunyai budaya sehari-hari yang sopan. Saya kemudian teringat saat keluar dari pesawat, sang pramugara menyalami dengan hangat namun sang pramugari mengatupkan tangan di dada. Kebiasaan sopan tersebut makin kental tatkala ada seseorang teman pria yang mencoba merangkul tour guide wanita saat foto bersama, guide tersebut menolak dengan tegas sambil mengatakan kalau hal itu tidak boleh karena tidak sopan. Peserta tour kami yang wanita dan muslimah, malah tidak ada yang begitu.

 

Saat berkeliling kota, kami dijelaskan tentang cirri khas Bangkok. Salah satunya, disana sangat jarang orang membunyikan klakson jika tidak sangat penting dan mengancam keselamatan. Makanya walaupun macet, tidak ada satu suara klaksonpun yang terdengar. Juga ada bus gratis. Bus ini warnanya merah putih, tanpa AC. Sopir bus ini dibayar pemerintah dari pajak, sedangkan penumpangnya gratis semua. Ceritanya, dulu saat krisis tahun 2008, banyak pengangguran. Pemerintah kemudian mengadakan proyek bus gratis bagi masyarakat. Menurut saya, inilah contoh bentuk subsidi yang riil dan menyentuh langsung ke rakyat. Sang sopir mendapat pekerjaan, sedangkan masyarakat dapat pengangkutan gratis yang membantu mengurangi beban hidup mereka khususnya biaya transportasi. Bandingkan dengan slogan subsidi di Indonesia!

Sebenarnya keindahan Thailand, terutama alamnya, kalah jauh bila dibandingkan dengan Indonesia. Produk utama wisata Thailand adalah kuil dan istana raja. Kemudian dikembangkan dengan pasar terapung, wisata sungai, atraksi gajah, wisata kuliner, wisata belanja, dan belakangan … wisata seks. Saya sendiri mengamati, sungai di Bangkok pun biasa-biasa saja, tidak terlalu jernih dan rapi, bahkan Sepanjang sungai banyak rumah-rumah sederhana lengkap dengan jemurannya tetapi memang jauh dari kesan kumuh seperti di Jakarta. Begitu juga kulinernya, tidak terlalu jauh dengan Indonesia. Tapi mereka pandai mengemas dan memasarkannya, ditambah kondisi social keamanan yang mendukung. Slogan wisata mereka adalah Thaliand, The Land of Smiles. Maaf, untuk yang satu ini saya kurang sependapat. Sepanjang 4 hari di Thailand, saya jarang menemui orang tersenyum ramah menyapa. Mulai dari petugas bandara, petugas hotel, petugas tempat-tempat wisata, maupun pedagang-pedagangnya, tidak banyak yang tersenyum ramah menyapa kami. Sekali lagi, keramahan Indonesia masih jauh lebih hangat. Atau mungkin karena kami bukan bule? Entahlah, yang pasti saat kami pergi sendiri-sendiri, tidak bersama rombongan, para pedagang sering menawarkan dagangan dengan bahasa Thailand karena mengira kami sama-sama penduduk Thailand juga, he he.

 

Satu lagi, tentang raja Thailand, Bhumiphol keenam atau Bhumibol Adulyadej, sangat dicintai rakyatnya. Tour guide kami menjelaskan kenapa raja ini sangat dicintai rakyatnya. Bisa dibilang kejayaan Thailand sekarang ini adalah hasil perjuangan beliau. Raja ini sangat merakyat, manjauhkan diri dari kemewahan. Dulu saat muda, raja sering berkelana ke seluruh pelosok Thailand. Tidak jarang orang tidak tahu bahwa dia adalah raja Thailand. Jika dia menemukan sesuatu hal yang menonjol pada suatu daerah, dia akan mencari orang yang paling menguasai hal tersebut, dia akan membawa orang tersebut ke istana. Disana orang tersebut dilatih agar semakin ahli di bidangnya. Setelah selesai, orang tersebut dikembalikan ke daerahnya untuk membagi ilmunya kepada para penduduk disana. Dan itu semua dibiayai dengan uang dari kantong raja sendiri! Bukan dari kas Negara! Hasilnya, Thaliand sekarang terkenal dengan durian montong, jambu Bangkok, tarian khas, dan lain-lain. Lebih mengejutkan lagi ketika sang tour guide menceritakan buku favorit sang raja, Al-Qur’an dan hadits!! Rupanya sang raja mengambil prinsip-prinsip manajemen Negara dari kitab-kitab tersebut. Sebagai muslim dan berasal dari Negara yang mayoritas muslim, saya malu dengan kenyataan tersebut.

Itulah sekilas kesan saya tentang Thailand. Negeri yang mayoritas beragama Budha, namun dalam pemerintahannya jauh lebih Islami dibanding Negara Indonesia yang mayoritas beragama islam. Ironis….

Rabu, 30 September 2009

Pelajaran bagi para pemuja cinta...

Tidak Boleh Ada Penyesalan

oleh Halimah

Sekitar dua belas tahun yang lalu, orang tua Sania ( nama samaran ) telah menerima pinangan seorang pria. Rencananya  Sania akan melaksanakan akad nikah dengan pria tersebut sekitar dua atau tiga bulan setelah pinangan tersebut. Ini dikarenakan ada beberapa hal yang masih harus di persiapkan.

Dalam masa menunggu itu, Sania tidak punya kegiatan yang menyita waktunya. Hari-harinya terasa sangat lambat. Ikatan ini adalah perjodohan yang harus diterimanya. Tapi entah kenapa, setelah beberapa waktu sebelum cincin kawin melingkar di jari manisnya, dia kedatangan dua orang pria. Seorang pria adalah temannya, dan kebetulan membawa serta seorang  pria yang ternyata seorang duda. Kedatangan dua orang pria itu ternyata membawa efek yang tidak diperkirakan oleh Sania maupun keluarganya.

 “Betapa tampannya laki-laki ini. Berdebar jantungku menatapnya. Apakah aku saat ini jatuh cinta. Selama ini memang aku tak pernah merasakan bagaimana orang jatuh cinta. Tapi saat ini, rasanya aku mengetahui pula bagaimana bila kita tertawan pada pandangan pertama.” Begitulah yang dirasakan Sania pada pertemuan pertama ini. Dia tidak bisa melepaskan pesona lelaki yang telah memikat hatinya ini. Padahal sang lelaki yang bernama Andi ( nama samaran ) tidak banyak  bicara, kecuali sepatah dua patah kata. Dia pun hanya menunjukkan KTPnya ketika di tanya siapa namanya.

Setelah pertemuan itu, Sania tidak bisa tenang dalam tidurnya. Setiap waktunya hanya mengingat sebuah wajah, yang dia sendiri tidak tahu kenapa sangat di rindukannya. Padahal lelaki itu sepertinya biasa-biasa saja dalam pertemuan mereka, tidak kelihatan hal istimewa yang ditunjukkannya pada Sania, yang membuat Sania tahu jika lelaki itu ada hati padanya.

Ada beberapa pertemuan beberapa kali dengan sang pujaan hatinya tersebut, hingga Sania dengan sangat tega memutuskan pinangan yang telah diterima kedua orangtuanya hanya karena kehadiran Andi dihatinya. Memang Sania menyadari konsekuensinya, dengan merusak harapan orangtua dan itu berarti membuat kerusakan kekerabatan antara orangtua dan keluarga calon suaminya. Tapi apa yang bisa dikatakan, bila Sania tidak bisa menolak pesona Andi yang sangat kuat terpatri dalam pikirannya. Ini adalah cinta pertamanya, yang tidak ingin dilepaskannya, walau pun dia tahu Andi adalah seorang duda dengan beberapa orang anak dari hasil perkawinannya yang pertama.

 “Aku  tak bisa hidup tanpa dirinnya.”. Begitulah Sania memberi  alasan kepada kedua orangtuanya. Hingga beberapa ancaman pun keluar dari mulutnya. Sania yang mungil, lembut dalam bersikap dan bertutur kata, ternyata dapat pula mengeluarkan sebuah ultimatum yang tidak bisa di tolak orangtuanya.

Akhirnya perkawinan nya dengan Andi dapat terlaksana. Serasa dunia berada di dalam pelukannya. Banyak angan yang tersimpan. Banyak mimpi yang ingin di bangun bersama Andi yang sangat di cintainya. Rasanya tidak pernah Sania merasakan kegembiraan seumur hidupnya, seperti pada  saat dikukuhkannya ikatan mereka  pada hari istimewa ini

Sania yang berasal dari Kalimatan Selatan, setelah menikah di boyong suaminya ke Sengata, tempat suaminya bekerja. Sania pun memulai hidup baru dengan suasana yang  tidak pernah di bayangkannya. Sania pun hanya berusaha  untuk menerimanya dengan sepenuh kekuatannya.

Rumah tangga yang penuh gelak tawa, canda dan romantisme sebuah pengantin baru, ternyata hanyalah tetap sebuah mimpi, yang tidak pernah terwujud. Hari-harinya penuh dengan kebisuan. Andi, suaminya ternyata seorang yang sangat pendiam bila bersama istrinya. Tidak ada kata-kata kecuali sesuatu yang keluar dari mulutnya hanya berupa satu atau dua patah kata tidak lebih. Tapi anehnya, bila ada seseorang yang berkunjung ke rumahnya, Andi dapat berbincang dengan lancar. Tentu saja ini sangat menyakitkan hati Sania. Sania tidak menyangka Andi akan memperlakukannya hanya seperti barang. Bila dibutuhkan akan dihampiri, tapi bila tidak, maka jangan berharap ada kemesraan yang diinginkan oleh Sania. Sania yang lembut, tidak bisa membagi deritanya ini kepada siapa pun tak terkecuali kepada orangtuanya.

Saat ini Sania telah mempunyai dua orang anak dari hasil pernikahannya. Jangan dibayangkan sang suami hanya pendiam. Tapi Andi ternyata juga suka wanita lain. Beberapa kali dia hidup dengan wanita lain. Kadang dia hanya pulang untuk mengambil pakaian bersihnya sepulang kerja, kemudian menginap di rumah wanita selingkuhannya. Berbagai cara telah Sania lakukan, tapi ternyata Andi memang punya sifat demikian. Sania kecolongan! Karena ketika menerima tawaran Andi untuk menikah dengannya, Sania tidak mencari informasi tentang penyebab kegagalan pernikahan Andi yang pertama. Sania baru tersadar, dia hanya menurutkan kata hati untuk mengikat diri pada Andi.

Prahara demi prahara mengisi kesehariannya. Dia tetap teguh menjalani biduk rumahtangga yang memang diinginkannya, walaupun keluarga besarnya menentangnya. Sania hanya dapat meneteskan air matanya pada seorang sahabatnya , untuk setiap deritanya. Sania telah berulang kali meminta cerai pada suaminya, tapi Andi tetap kukuh mengikatnya. Kemana pun Sania pergi, maka suaminya dapat menemukannya. Sania pun berlari kepada ipar dan mertuanya, tapi yang di dapat? Mereka hanya menyalahkan Sania.

“Kamu sendiri yang mau dengan Andi, kenapa harus kecewa?” kata-kata itu menghujam di lubuk hatinya. Mendengungkan gendang telinganya, membuat runtuh jantungnya, tak ada tempat untuk berlari. Tak ada tempat untuk berbagi derita, semuanya gelap dirasa.

 

Beberapa kali dia berniat bunuh diri dengan membawa kedua anaknya. Sania berdiri di jembatan Pinang dan menunduk melihat air sungai yang sangat deras. Sania meneteskan airmata, sadar bahwa semua keruwetan ini adalah karma baginya. Anak keduanya yang baru berusia beberapa minggu, ada di gendongannya. Anak pertamanya memegang tangannya di sebelahnya.

“Kita mau ngapain ma?” Anak pertamanhya bertanya, karena Sania hanya diam terpaku berdiri di pinggiran jembatan yang saat itu belum rampung dibangun. Air-matanya menetes deras. Kesadaran mulai merambati hatinya. Sania sadar. Akan ada kehidupan kedua yang akan dijalaninya. Kehidupan akhirat yang akan meminta semua pertanggung-jawabannya selama di dunia ini. Maka Sania pun melangkah pulang ke rumahnya,  rumah yang tak pernah indah di pandangan matanya.

Sania yang dulunya berjilbab dan berpakaian sopan, ternyata saat ini sangat berubah. Jilbabnya lenyap, pakaian yang dulunya tidak disukainya, ternyata saat ini sangat digemarinya. Sania sekarang ini senang memakai pakaian ketat, yang memperlihatkan lekuk ktubuhnya. Pakaiain yang dapat membuat jakun para lelaki naik turun karenanya. Naudzubillah.

Begitulah cerita Sania. Sania yang dulunya seorang yang taat agama, ternyata melepaskan semuanya demi sebuah cinta. Cinta yang hanya didasari nafsu.  Lalai untuk bermunajat kepada Pengatur Kehidupan ini, melalui shalat istikharah. Sania dengan sangat berani mempermalukan keluarganya, khususnya kepada kedua orangtuanya dengan melepaskan kesepakatan perjodohannya, hanya karena tidak ingin melepaskan orang yang membuatnya mabuk kepayang.

Sania melepas perjodohan dari  orangtuanya untuk mereguk bahagia cinta, ternyata malah mendapatkan derita yang tidak berujung. Malu pada diri, malu pada keluarga, dan membuatnya menjauh dari Allah Swt.

Inilah gambaran dari seorang anak manusia yang hanya menuruti kata hati. Sebuah keyakinan yang tak berdasar, yang membuatnya yakin cintanya adalah sebuah awal dari kebahagiaan selanjutnya, ternyata itu adalah awal dari semua penderitaannya, hingga kini. Penderitaan yang menimpanya, adalah sebuah penderitaan yang tidak boleh ada penyesalan,  karena itu lah jalan yang telah dipilihnya.

 ( Cerita ini nyata, wanita dalam cerita ini penulis kenal ( tapi tidak akrab ). Ada pun sumber ceritanya berasal dari sahabatnya yang kebetulan merupakan teman penulis pula. )

 Sengata, 27 September 2009

 Halimah Taslima

 Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata

 

halimahtaslima@gmail.com

sumber:eramuslim.com

Minggu, 22 Februari 2009

Kritik gambar2 "Bukti Kebesaran Allah"

Saya 'nemu' kritik gambar/foto bukti kebesaran Allah. Ada beberapa foto yang menurut hasil analisa ternyata bukan asli alias direkayasa. Hmm bagus juga nih, kita jadi lebih kritis. Walaupun mungkin tujuannya baik tapi Allah tentu tidak berkenan kebesarannya dibuktikan dengan dipaksakan lewat hal-hal yang palsu.

Untuk lebih lengkapnya silahkan lihat di http://al-habib.tripod.com/bantahan/

Jumat, 28 November 2008

Nulis lagiii


Akhir-akhir ini rasanya saya jd manusia paling malas & paling bodoh sedunia! Kerjaan yang sebenarnya dari dulu juga itu-itu juga rasanya kok jadi buanyak sekali. Padahal setahun yang lalu saya sendirian di sini, dan semuanya beres bahkan masih sempat aktif nulis dan posting2 di blog. Sekarang, saya dibantu seorang teman. Tapi yang terjadi saya terlalu tergantung sama dia, mengandalkan dia. Hasilnya, sekarang dia lebih pintar dari saya .

Beberapa hari yang lalu seorang teman, kaka tingkat pas kuliah ngasih tahu klo barusan post comment di blog ini. Saya jadi tersentak, knp saya ga tahu?

Rasanya pingin nangis, saya begitu 'menikmati' kemalasan dalam situasi yang nyaman.

Hari ini, 1 Dzulhijjah 1429 H, saya canangkan untuk kembali seperti dulu lagi!

Senin, 31 Maret 2008

Gaji Yang Tak Jelas*

Gaji Yang Tak Jelas*

Hari itu Sulaiman bin Ja’far Al-Ja’fari bersama-sama Imam Ridha, keluar untuk suatu keperluan. Menjelang malam, Imam mengajaknya datang dan menginap di rumah.

Setibanya disana, Imam melihat pegawai-pegawainya tengah sibuk membatik. Nampak pula diantara mereka seorang asing yang tidak dikenal.

“Siapa dia?” tanya Imam kepada para pegawainya.
“Seorang buruh yang kami ambil dan diupah,” jawab mereka.
“Baik! Berapa upah yang kalian tentukan untuknya?”
“Nanti akan kami berikan seberapa yang dia rela.”

Kemarahan nampak di wajah Imam. Dia pergi mengambil cambuk untuk mengajar kecerobohan pegawai-pegawainya. Sulaiman berkata, “Imam, kenapa Anda harus marah?”

“Telah berkali-kali kukatakan kepada mereka agar jangan mengupah seseorang selagi imbalan gajinya belum ditentukan. Pertama-tama tentukan dahulu upahnya, baru kemudian dia bekerja. Kalau gaji seseorang telah ditentukan sebelumnya, kalaupun akan ditambah dengan uang ekstra tidaklah apa-apa; dan dia, pada gilirannya, akan sangat berterima kasih atas itu. Disamping itu hubungan kalian akan bertambah erat, dan dia akan sangat menyukai kalian.”

“Seandainya kalian tetap hanya memberikan upah sekadar upah yang telah ditentukan sebelumnya, dia pun masih akan rela menerimanya. Ini berbeda dengan seseorang yang bekerja tanpa mengetahui gaji yang akan diterimanya. Karena seberapa banyak yang kalian berikan kepadanya, dia tetap tak akan percaya bahwa itu adalah hadiah dari kalian, bahkan dia menduga bahwa kalian telah memberi upah lebih sedikit dari yang seharusnya dia terima.”

*Bikhar Al-Anwar, jilid XII, hal 31
(Dikutip dari Kisah Sejuta Hikmah, oleh Murtadha Muthahhari, terbitan Pustaka Hidayah)

Selasa, 19 Februari 2008

Dibalik toilet pasar

   Kemarin malam (19/2) saya ke pasar bersama beberapa teman kantor untuk meninjau perbaikan toilet pasar. Dalam rangka ultah yang ke-50, kantor cabang kami melakukan bakti sosial, lebih tepatnya sumbangan sosial memperbaiki toilet pasar besar. Seperti kita ketahui bersama, yang namanya toilet pasar dimana-mana (di Indonesia) pasti kotor, kumuh, jorok. Pengerjaannya sudah dimulai beberapa hari yang lalu dan rencananya diresmikan juma't besok. Sebenarnya saya tidak termasuk tim panitia tapi malam itu saya diajak teman, yah sekedar meliha-lihat lah.

   Sesampai di lokasi panitia 'beneran' langsung memeriksa hasil pengerjaan, tanya ini itu ke para pekerja. Tidak berapa lama datang pemborong yang mengerjakan perbaikan itu. Saya berbincang-bincang sebentar dengannya kemudian ada ceritanya yang sangat mengusik. Dia bilang bahwa selama ini dana pemeliharaan toilet-toilet pasar tersebut ditanggung oleh para penunggu toilet yang berjaga didepan toilet dengan mengandalkan pemasukan dari para pengguna. Saya bertanya, lalu bagaimana dengan dana dari APBD? Bukankah sudah ada anggaran pemeliharaan dari retribusi pasar? Jawabannya sangat mengejutkan. Dana itu tidak pernah sampai ke pasar! Yang kemudian membuat saya makin terkejut, setengah dari pendapatan toilet itu masih harus disetor ke pemkot!

  Jadi para penjaga toilet itu menyetorkan setengah dari pendapatannya ke Pemkot, tapi masih harus menanggung sendiri pemeliharaan toilet umum itu. Trus kemana larinya dana anggaran pemeliharaan + setoran dari petugas toilet itu? Si pemborong itu hanya mengangkat bahu. Dia lalu menambahkan, wajar klo toiletnya tambal sulam, pintu rusakpun diganti seadanya. Di akhir percakapan dia bilang sinis, pantas saja pejabatnya (mungkin yang dimaksud pejabat pemkot yang mengurusi pasar) bisa beli (Nissan) X-Trail!
 
  Ya Allah, kalau urusan toilet pasar saja sampai seperti ini, bagaimana dengan yang lain???

Rabu, 12 Desember 2007

Kisah sepotong Kue

Kisah sepotong Kue
Kisah sepotong Kue
Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu,ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk.
Sambil duduk wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya , ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka.
Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam.
Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu.

Wanita itupun sempat berpikir: "Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!“.
Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu.
Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua.
Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir : “Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih”.
Belum pernah rasanya ia begitu kesal.
Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang.

Menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih".
Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan nafas dengan kaget. Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya !!!
Koq milikku ada disini erangnya dengan patah hati.
Jadi kue tadi adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi. Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih.
Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih. Dan dialah pencuri kue itu !



Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi.
Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.
Orang lainlah yang selalu salah
Orang lainlah yang patut disingkirkan
Orang lainlah yang tak tahu diri
Orang lainlah yang berdosa
Orang lainlah yang selalu bikin masalah
Orang lainlah yang pantas diberi pelajaran
Padahal
Kita sendiri yang mencuri kue tadi
Kita sendiri yang tidak tahu terima kasih.

Kita sering mempengaruhi, mengomentari , mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain .
Sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.


i guess sometimes Silent is just the best answer. And, Talk Less and Do more is much better.

everything will be beautiful in His time.

Berkah Menepati Janji

Contoh Kecil Berkah Menepati Janji Sudah beberapa hari ini putriku yang kedua merengek minta diantar pakai motor. Bibirnya monyong saa...