Rabu, 27 Oktober 2010

Catatan dari Thailand

Weekend kemarin saya dapat kesempatan jalan-jalan ke Thailand dari kantor. Sebenarnya agak kurang minat karena sebelum berangkat mesti ada acara performance show mewakili kanwil, ada nyanyi-nyanyi segala, dan itu saya tidak suka. Apalagi masih ditambah dengan sexy dancers dengan busana pantai. Tapi setelah acara itu terlewati saya fokus ke Thailand, apa kira-kira yang akan saya temui disana ya? Maklum, ini pertama kali saya pergi ke negeri orang.

Masuk di pesawat Thai Airways yang merupakan maskapai best three in Asia dan best five in the world, kesan saya biasa saja. Malah saya 'kebagian' pramugari yang cantik tapi tidak bisa tersenyum dan sepertinya ogah ngobrol atau berinteraksi dengan penumpang. Setiap kali menanyakan sesuatu, dia berbicara seperti robot. Seperti waktu menawarkan minum kopi atau teh, dia hanya bilang : “Coffee or tea?” tanpa ekspresi. Saya sebetulnya mengharap tawaran yang lebih bersahabat, seperti “Would you like coffee or tea, sir?”. Saya jadi iri pada baris kanan yang dilayani pramugara botak namun sangat ramah dan komunikatif. Satu yang baru buat saya, tawaran minuman keras! Sebagai muslim saya jelas menolak, namun beberapa teman lain yang juga muslim malah bersemangat dengan alasan coba-coba. I hate that!

Setelah perjalanan tiga jam yang dingin, sampai juga saya di Bangkok International Airport yang baru, Bandara Suvarnabhumi. Merasa akrab dengan kata-kata itu? Jangan heran, jaman dulu kebudayaan kerajaan budha Indonesia satu sumber dengan Thailand. Bandara ini dibangun pemerintah untuk menggantikan bandara internasional lama, Don Muang. Kapasitas Don Muang sebesar 14 juta penumpang per tahun tidak lagi memadai untuk menampung penumpang, maka dibangunlah bandara baru dengan kapasitas 24 juta penumpang per tahun. Saya kagum dengan bandara baru ini, luas, canggih, rapi, dan tentu saja, bersih. Sangat jauh dengan bandara Soekarno Hatta di Jakarta. Satu hal yang menarik perhatian saya, jalan di dalam bandara ini dirancang khusus agar dapat dilewati mobil khusus bandara, mirip mobil golf. Kegunaan mobil ini untuk mengantar dan menjemput penumpang yang mepet dengan jadwal keberangkatan pesawat. Jika ada penumpang yang baru masuk boarding sedangkan pesawat sudah hampir siap, petugas di bagian boarding akan menghubungi petugas di mobil untuk ‘melarikannya’ ke gate keberangkatan. Jadi tidak kita temukan lagi penumpang berlari-lari tergopoh-gopoh sambil menenteng tas menuju gate.

Setelah keluar bandara, kami seluruh rombongan naik bus yang telah dipersiapkan. Sejenak saya mengamat-amati suasana sekitar. Pandangan saya tertuju pada dua pria dan seorang wanita yang berjalan menghampiri temannya. Ketika bertemu, mereka saling bersalaman namun saat dengan wanita itu para pria tidak bersalaman namun saling mengatupkan tangan di depan dada, salam khas Thailand. Mengejutkan, negeri yang terkenal dengan industry sexnya, ternyata mempunyai budaya sehari-hari yang sopan. Saya kemudian teringat saat keluar dari pesawat, sang pramugara menyalami dengan hangat namun sang pramugari mengatupkan tangan di dada. Kebiasaan sopan tersebut makin kental tatkala ada seseorang teman pria yang mencoba merangkul tour guide wanita saat foto bersama, guide tersebut menolak dengan tegas sambil mengatakan kalau hal itu tidak boleh karena tidak sopan. Peserta tour kami yang wanita dan muslimah, malah tidak ada yang begitu.

 

Saat berkeliling kota, kami dijelaskan tentang cirri khas Bangkok. Salah satunya, disana sangat jarang orang membunyikan klakson jika tidak sangat penting dan mengancam keselamatan. Makanya walaupun macet, tidak ada satu suara klaksonpun yang terdengar. Juga ada bus gratis. Bus ini warnanya merah putih, tanpa AC. Sopir bus ini dibayar pemerintah dari pajak, sedangkan penumpangnya gratis semua. Ceritanya, dulu saat krisis tahun 2008, banyak pengangguran. Pemerintah kemudian mengadakan proyek bus gratis bagi masyarakat. Menurut saya, inilah contoh bentuk subsidi yang riil dan menyentuh langsung ke rakyat. Sang sopir mendapat pekerjaan, sedangkan masyarakat dapat pengangkutan gratis yang membantu mengurangi beban hidup mereka khususnya biaya transportasi. Bandingkan dengan slogan subsidi di Indonesia!

Sebenarnya keindahan Thailand, terutama alamnya, kalah jauh bila dibandingkan dengan Indonesia. Produk utama wisata Thailand adalah kuil dan istana raja. Kemudian dikembangkan dengan pasar terapung, wisata sungai, atraksi gajah, wisata kuliner, wisata belanja, dan belakangan … wisata seks. Saya sendiri mengamati, sungai di Bangkok pun biasa-biasa saja, tidak terlalu jernih dan rapi, bahkan Sepanjang sungai banyak rumah-rumah sederhana lengkap dengan jemurannya tetapi memang jauh dari kesan kumuh seperti di Jakarta. Begitu juga kulinernya, tidak terlalu jauh dengan Indonesia. Tapi mereka pandai mengemas dan memasarkannya, ditambah kondisi social keamanan yang mendukung. Slogan wisata mereka adalah Thaliand, The Land of Smiles. Maaf, untuk yang satu ini saya kurang sependapat. Sepanjang 4 hari di Thailand, saya jarang menemui orang tersenyum ramah menyapa. Mulai dari petugas bandara, petugas hotel, petugas tempat-tempat wisata, maupun pedagang-pedagangnya, tidak banyak yang tersenyum ramah menyapa kami. Sekali lagi, keramahan Indonesia masih jauh lebih hangat. Atau mungkin karena kami bukan bule? Entahlah, yang pasti saat kami pergi sendiri-sendiri, tidak bersama rombongan, para pedagang sering menawarkan dagangan dengan bahasa Thailand karena mengira kami sama-sama penduduk Thailand juga, he he.

 

Satu lagi, tentang raja Thailand, Bhumiphol keenam atau Bhumibol Adulyadej, sangat dicintai rakyatnya. Tour guide kami menjelaskan kenapa raja ini sangat dicintai rakyatnya. Bisa dibilang kejayaan Thailand sekarang ini adalah hasil perjuangan beliau. Raja ini sangat merakyat, manjauhkan diri dari kemewahan. Dulu saat muda, raja sering berkelana ke seluruh pelosok Thailand. Tidak jarang orang tidak tahu bahwa dia adalah raja Thailand. Jika dia menemukan sesuatu hal yang menonjol pada suatu daerah, dia akan mencari orang yang paling menguasai hal tersebut, dia akan membawa orang tersebut ke istana. Disana orang tersebut dilatih agar semakin ahli di bidangnya. Setelah selesai, orang tersebut dikembalikan ke daerahnya untuk membagi ilmunya kepada para penduduk disana. Dan itu semua dibiayai dengan uang dari kantong raja sendiri! Bukan dari kas Negara! Hasilnya, Thaliand sekarang terkenal dengan durian montong, jambu Bangkok, tarian khas, dan lain-lain. Lebih mengejutkan lagi ketika sang tour guide menceritakan buku favorit sang raja, Al-Qur’an dan hadits!! Rupanya sang raja mengambil prinsip-prinsip manajemen Negara dari kitab-kitab tersebut. Sebagai muslim dan berasal dari Negara yang mayoritas muslim, saya malu dengan kenyataan tersebut.

Itulah sekilas kesan saya tentang Thailand. Negeri yang mayoritas beragama Budha, namun dalam pemerintahannya jauh lebih Islami dibanding Negara Indonesia yang mayoritas beragama islam. Ironis….

Tidak ada komentar:

Berkah Menepati Janji

Contoh Kecil Berkah Menepati Janji Sudah beberapa hari ini putriku yang kedua merengek minta diantar pakai motor. Bibirnya monyong saa...