Senin, 31 Maret 2008

Gaji Yang Tak Jelas*

Gaji Yang Tak Jelas*

Hari itu Sulaiman bin Ja’far Al-Ja’fari bersama-sama Imam Ridha, keluar untuk suatu keperluan. Menjelang malam, Imam mengajaknya datang dan menginap di rumah.

Setibanya disana, Imam melihat pegawai-pegawainya tengah sibuk membatik. Nampak pula diantara mereka seorang asing yang tidak dikenal.

“Siapa dia?” tanya Imam kepada para pegawainya.
“Seorang buruh yang kami ambil dan diupah,” jawab mereka.
“Baik! Berapa upah yang kalian tentukan untuknya?”
“Nanti akan kami berikan seberapa yang dia rela.”

Kemarahan nampak di wajah Imam. Dia pergi mengambil cambuk untuk mengajar kecerobohan pegawai-pegawainya. Sulaiman berkata, “Imam, kenapa Anda harus marah?”

“Telah berkali-kali kukatakan kepada mereka agar jangan mengupah seseorang selagi imbalan gajinya belum ditentukan. Pertama-tama tentukan dahulu upahnya, baru kemudian dia bekerja. Kalau gaji seseorang telah ditentukan sebelumnya, kalaupun akan ditambah dengan uang ekstra tidaklah apa-apa; dan dia, pada gilirannya, akan sangat berterima kasih atas itu. Disamping itu hubungan kalian akan bertambah erat, dan dia akan sangat menyukai kalian.”

“Seandainya kalian tetap hanya memberikan upah sekadar upah yang telah ditentukan sebelumnya, dia pun masih akan rela menerimanya. Ini berbeda dengan seseorang yang bekerja tanpa mengetahui gaji yang akan diterimanya. Karena seberapa banyak yang kalian berikan kepadanya, dia tetap tak akan percaya bahwa itu adalah hadiah dari kalian, bahkan dia menduga bahwa kalian telah memberi upah lebih sedikit dari yang seharusnya dia terima.”

*Bikhar Al-Anwar, jilid XII, hal 31
(Dikutip dari Kisah Sejuta Hikmah, oleh Murtadha Muthahhari, terbitan Pustaka Hidayah)

Benarkah Quran Menetapkan Bahwa Matahari Mengelilingi Bumi?

Benarkah Quran Menetapkan Bahwa Matahari Mengelilingi Bumi?

eramuslim-Senin, 31 Mar 08 07:54 WIB

Kirim teman

Saya membaca fatwa ulama yaitu Syeikh Utsaimin yang menegaskan bahwa zhahir ayat Quran mengatakan bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi. Pandangan ini menurut beliau berdasarkan banyak ayat Quran, sehingga kita tidak boleh berpandangan sebaliknya bahwa bumi-lah yang mengelilingi matahari. Bahkan menurut beliau, suat hari nanti para ilmuwan akan berbantahan tentang benarkan bumi mengitari matahari.

Mohon klarifikasi dari ustadz, benarkah ulama sekelas Syaikh Utsaimin mengatakan hal itu? Dan benarkah memang al-Quran secara tegas menyatakan hal itu.

Terima kasih jazakamullahu khairal jaza'.

Erti Manangku
ertia

Jawaban

Assalamu a'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Setiap ulama tentu berhak untuk mengeluarkan pendapat dan fatwanya. Juga berhak untuk diikuti fatwa dan pendapatnya itu oleh umat Islam.

Namun tidak ada satu pun manusia yang dijamin oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW selalu pasti benar dalam segala halnya. Bahkan para shahabat yang mulia dan dijamin masuk surga sekalipun, terkadang tidak saling sependapat dalam banyak masalah antara sesama mereka. Perbedaan pandangan di kalangan shahabat nabi SAW menunjukkan bahwa seseorang bisa saja punya pendapat yang berbeda dengan saudaranya, tanpa harus terjadi permusuhan atau saling ejek di antara mereka.

Para ulama sejak masa salaf dahulu, banyak yang berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang benar dalam ijtihad dan di antaranya ada yang salah. Bahkan Imam As-Syafi'i rahimahullah pernah mengoreksi pendapat-pendapatnya yang telah ditetapkan sebelumnya. Sehingga ada dua qaul dalam mazhabnya, yaitu qaul qadim ketika beliau tinggal di Iraq dan qaul jadid ketika beliau tinggal di Mesir.

Bahkan para ulama di level mujtahid mutlak sekalipun tidak pernah mewajibkan manusia untuk hanya berguru kepada dirinya sendiri saja. Bagi mereka, bila ada orang yang ingin berpendapat sebagaimana pendapat dirinya, boleh saja. Tapi bila menolak dan mengambil pendapat ulama lain, mereka ikhlas dan sama sekali tidak sakit hati.

Bila di masa sekarang ini ada pendapat dan pandangan dari ulama tertentu yang barangkali tidak kita sejalan, tanpa mengurangi rasa hormat kepada beliau, boleh saja hal itu ditolak dan tidak berdosa. Asalkan ada pembanding dari pendapat ulama lainnya yang dirasa lebih kuat hujjahnya.

Matahari Mengelilingi Bumi?

Benar bahwa salah satu di antara ulama yang berpendapat bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi adalah Syeikh Al-Utsaimin. Keluasan ilmu beliau dan kedalamannya dalam masalah agama, tentu tidak perlu diragukan lagi. Namun bukan berarti beliau harus selalu benar dalam semua pendapatnya.

Apalagi yang beliau sampaikan bukan terkait dengan masalah umurdiniyyah, melainkan tsaqafah umum terkait dengan sebuah fenomena alam yang di dalam Al-Quran disampaikan lewat isyarat. Bukan lewat pernyataan yang bersifat eksplisit. Artinya, kesalahan dalam memahami hal-hal seperti ini tidak berpengaruh pada masalah aqidah dan syariah, namun lebih kepada informasi tentang fenomena alam dan ilmu pengetahuan.

Kalau kita teliti lebih dalam, sebenarnya di dalam Al-Quran tidak pernah ada ayat yang bunyinya secara tegas menyebutkan bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi. Penekanannya di sini pada kalimat: mengelilingi bumi. Kalau ayat yang menunjukkan bahwa matahari bergerak dan digerakkan oleh Allah SWT, memang banyak bertaburan di banyak tempat dalam Al-Quran. Akan tetapi tidak ada satupun yang menyebutkan dengan mengelilingi bumi.

Yang ada hanya pernyataan bahwa matahari itu bergerak, beredar, terbit, terbenam, condong, pergi, datang dan sejenisnya. Semua pernyataan itu tentu tidak boleh kita tolak. Namun sekali lagi, Al-Quran tidak pernah menyebutkan bahwa matahari MENGELILINGI bumi. Tidak ada ayat yang bunyinya: asyamsu taduru haulal ardhi.

Walhasil, secara zahir nash tidak ada pernyataan di dalam Al-Quran bahwa matahari mengelilingi bumi.

Kalau pun matahari disebutkan telah bergerak dalam arti terbit, terbenam, condong dan sebagainya, tidak ada seorang muslim pun yang menolaknya. Karena zhahir nash memang mengatakan demikian. Perhatikan ayat-ayat berikut ini:

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri. (QS al-Kahfi: 17)

Namun semua yang terkait dengan informasi matahari itu sangat dikaitkan dengan pandangan subjektif manusia. Di mana Allah SWT memang berfirman untuk umat manusia. Maka boleh saja disebutkan bahwa matahari itu terbit, tentunya dari sudut pandang manusia. Padahal sesungguhnya, matahari tidak pernah pergi menghilang dari wujudnya, dia hanya menghilang dari pandangan mata kita saja.

Untuk lebih jelasnya, silahkan perhatikan ayat berikut ini:

Hingga apabila dia telah sampai ke tempat ter benam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata, "Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka." (QS Al-Kafhi: 86)

Kalau kita lihat zhahir nash ayat ini, jelas sekali disebutkan bahwa ada tempat terbenamnya matahari, di mana matahari bukan hanya terbenam, tapi disebutkan tempatnya masuk ke dalam bumi, yaitu di laut yang berlumpur hitam. Tetapi apakah matahari turun ke bumi dan masuk ke dalam laut? Tentu tidak bukan. Ini hanya pandangan subjektif seseorang yang melihat seolah-olah matahari masuk ke dalam laut. Padahal hakikatnya matahari berjarak 8 menit perjalanan cahaya dari bumi.

Di dalam dalil lainnya yang juga shahih, disebutkan hal yang lebih aneh lagi. Yaitu matahari pergi ke 'Arsy.

Nabi SAW berkata kepada Abu Dzar ketika matahari terbenam. “Apakah engkau tahu ke mana dia pergi?” Abu Dzar menjawab, “Allah dan rasulnya lebih mengetahui.” Nabi berkata, “Sesungguhnya dia pergi bersujud di bawah Arsy dan meminta izin lalu diizinkan. Dan dia meminta izin dan tidak diizinkan. Kemudian dikatakan, kembalilah ke tempat kamu muncul dan terbenamlah dari arah baratnya.”

Kalau memang hakikatnya matahari pergi pulang ke arsy tiap hari, dalam logika kita manusia di muka bumi, tentu harus ada masa dalam 24 jam bumi tidak mendapat sinar matahari dan juga alam semesta. Namun separuh manusia yang melata di muka bumi ini selalu dalam keadaan melihat matahari. Matahari tidak pernah tenggelam dari pandangan seluruh manusia di bumi.

Matahari hanya kelihatan terbit buat segelintir orang yang kebetulan berada pada posisi matahari terbit. Demikian juga matahari hanya terbenam dalam pandangan manusia yang kebetulan berada di belahan bumi yang sebentar lagi membelakangi matahari. Dan semua itu terjadi bergantian. Tapi sesungguhnya matahari tidak pernah absen dari kita. Yang terjadi sesungguhnya, manusia lah yang absen dari matahari dengan membelakanginya.

Dan karena Al-Quran bukan kitab astronomi, bahkan punya unsur sastra yang tinggi, maka sah-sah saja semua ungkapan yang seolah-olah menggambarkan bahwa matahari melakukan semua gerakan itu. Tanpa harus terjebak untuk menjelaskannya secara astronomi.

Seperti ungkapan indah Al-Quran tentang malam dan siang yang saling berkejaran, apakah kita mau artikan bahwa malam dan siang itu seperti dua anak kecil main kejar-kejaran atau main petak umpet? Tentu tidak, bukan? Ungkapan berkejaran itu adalah gaya bahasa yang indah, tapi jangan dipahami terlalu teknis dan sederhana.

Bahkan di dalam Al-Quran bertabur ayat yang punya gaya ungkapan bahasa yang indah, kadang sampai terasa aneh. Misalnya, uban yang tumbuh di kepala nabi Zakaria, disebutkan dengan ungkapan khas yaitu uban berkobar di kepala. Berkobar itu kan sesungguhnya sifat dari api. Tetapi apakah benar kepala nabi Zakaria itu terbakar? Tentu tidak, bukan?

Ia berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah berkobar dengan uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo'a kepada Engkau, ya Tuhanku." (QS Maryam: 4)

Kebenaran Ilmu Pengetahuan

Namun lepas dari perbedaan pendapat dalam memahami nash Quran, kita pun harus tahu bahwa kebenaran dalam ilmu pengetahuan pun tidak pernah mutlak. Setiap kali selalu saja ada teori yang tumbang dengan teori baru. Setiap saat selalu saja muncul penemuan dan kebenaran baru, untuk sampai saatnya akan tumbang digantikan dengan yang baru.

Apa yang kita yakini sebagai kebenaran empiris tentang ilmu astornomi, sangat kita yakini suatu hari akan tumbang dengan fakta terbaru.

Wallau a'lam bishshawab wassalamu a'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Rabu, 26 Maret 2008

Pengenalan Singkat Terhadap Al-Hadis

hasil ngaji hari minggu, mudah-mudahan bermanfaat. saya yakin masih banyak yang belum tahu 

                      Pengenalan Singkat Terhadap Al-Hadis

(M. Hasyim Manan)

 

A.     Asal-usul Ajaran Islam

1.      Wahyu (perennial) : 1.1. Al-Qur’an (wahyu redaksional)

1.2. Al-Hadis (wahyu non redaksional)

2.      Akal (rasional)       : 2.1. Ijtihad (penemuan berdasar ajaran Islam)

 

B.     Pengenalan Singkat Terhadap Al-Hadis

1.      Pengertian : Kutipan dari Nabi Muhammad saw. Baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’il) atau persetujuan dengan sikap diam (taqrir)

2.    Karena kutipan, validitas (keabsaahannya) sangat tergantung kepada :

2.1.  Kondisi pihak yang mengutip atau yang meriwayatkan (rowi)

2.2.  Kondisi hubungan antar rowi (sanad)

2.3.  Kondisi materi yang dikutip (matan)

3.    Kesepakatan ahli hadis, bahwa hadis yang boleh menjadi sumber adalah :

3.1.  Hadis sohih, artinya 2.1. dan 2.2. dan 2.3. tidak ada yang cacat, artinya para periwayatnya semua jujur dan kuat hafalannya (tsiqoh), rangkaiannya atau sanadnya bersambung, dan isinya (matan) tidak janggal dan tidak bertentangan dengan yang lebih kuat.

3.2.  Hadis hasan, artinya 2.1. terdapat kekurangan,yakni pihak yang mengutip kurang cermat (kurang dlobith).

4.    Hadis do’if (lemah) tidak dapat dijadikan sumber penetapan ajaran Islam. Kalau hanya untuk memuji suatu amalan yang sudah ada, hadis doif boleh dipakai (fadlilatul a’mal).

Catatan : Suatu hadis dho’if, bila banyak data pendukung dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an atau didukung tingkatan dalil yang lebih tinggi (hadis shohih atau al-Qur’an) bias menjadi hadis hasan bighoiri tapi tetap tidak bisa dipakai sebagai sumber penetapan ajaran Islam. Contoh : hadis “annadhofatul minal iman” termasuk dhoif tapi di al-Qur’an banyak anjuran tentang kebersihan, sedangkan hadis “husbul wathon minal iman” sepenuhnya dhoif, tidak bisa dijadikan pegangan.

5.    Kedudukan Hadis terhadap al-Qur’an :

5.1.  Sebagai penjelasan (al-bayaan)

5.2.  Sebagai penetapan baru diluar al-Qur’an (al-istiqlal)

 

C.     Literatur Hadis

1.    Kutipan dari Nabi Muhammad saw. Dikumpulkan oleh ahli Hadis sejak abad pertama, dalam literatur yang disebut kitab hadis.

Induk kitab hadis ada tujuh yaitu :

1.1.  Al-Jami’us Sahih

1.1.1.   Sohih al-Bukhori

1.1.2.   Sohih Muslim

1.2.  Al-Sunan

1.2.1.   Sunan Abi Dawud

1.2.2.   Sunan Al-Tarmidzi

1.2.3.   Sunan Al-Nassa’i

1.2.4.   Sunan Ibnu Majah

1.3.  Al-Musnad

1.3.1.   Musnad Imam Ahmad

2.      Disebut Induk Kitab Hadis (ummabatu kutubil hadis) atau kitab tujuh (kutubus sab’ah) karena menurut asumsi para ahli hadis, kumulasi isi dari tujuh kitab itu diperkirakan sudah mencakup semua qoul fi’il dan taqrir Nabi Muhammad saw.

D.     Literatur Tambahan :


1.      Sunan al-Damiri

2.      Al-Muwatto’

3.      Ibnu Khuzaimah

4.      Ibnu Hibban

5.      Al-Baihqi Sughro

6.      Al-Baihqi Kubro

7.      Ibnu Abi Syaibah

8.      Majma al-Zawa’id

9.      Musnad Abu Dawud al-Toyalisi

10.  Mustadrok al-Hakim

11.  Musnad al-Humaidi

12.  Musnad al-Syihab

13.  Musnad Imam al-Syafi’I

14.  Musnad Imam Abu Hanifah

15.  Al-Daroqutni

16.  Musnad Ishaq bin Rohawaihi

17.  Musnad Abi Ya’la

18.  Musnad al-Ja’idi

19.  Misykat al-Masobih

20.  Muntakhob Abdu bin Humaid

21.  al-Targhib wa al-Tarhib

22.  al-Fathul Kabir

23.  Muntaqo Ibnu al-Jarud

24.  Faidul Qodir

25.  Al-Adzkar

26.  Musnad al-Haris

27.  Makarim al-Akhlaq

28.  Al-Durr al-Muntasiroh

29.  Al-Jihad

30.  al-Ilm

31.  Fado’il al-Sohabat

32.  Al-Lu’lu’ wal Marjan

33.  Misbah al-Zujajah

34.  Jami’ al-Hadis wa al-Marosil

35.  Al-Musqosidul Hasanah

36.  Musnad al-Syamiyyin

37.  Sunan al-Nassa’i Kubro

38.  Al-Hadis al-Qudsiyah

39.  Misykat al-Masobih

40.  Al-La’aliul Masnuah

41.  Al-Masnu’

42.  Al-Asror al-Marfu’ah

43.  Al-Asar al-Marfu’ah

44.  Al-Jidd al-Hasis

45.  Al-Masnu’at

46.  Al-Lu’lu’ al-Marsu’

47.  Al-Nukhbatul Bahiyah

Catatan : Kitab 40 – 47 merupakan kumpulan hadis dho’if

Surabaya, 16 Shofar 1429 H/24 Februari 2008 M

Berkah Menepati Janji

Contoh Kecil Berkah Menepati Janji Sudah beberapa hari ini putriku yang kedua merengek minta diantar pakai motor. Bibirnya monyong saa...