Senin, 22 November 2010

Beda Tepung Terigu dan Tepung Gandum

Akhir-akhir ini gencar iklan ataupun tulisan tentang kebaikan gandum, terutama pada makanan-makanan berbahan dasar tepung. Saya berkernyit kening, apa sih bedanya tepung gandumg dengan tepung terigu, kan dua-duanya sama-sama dari gandum? Mumpung ingat, saya langsung cari di internet, dan ini yang saya temukan dari yahoo answer. Ringkas, padat, namun cukup untuk 'mengobati' rasa penasaran saya. Semoga bermanfaat.

 

Tepung terigu adalah tepung yang dibuat dari biji gandum, jadi tepung terigu pada dasarnya sama dengan tepung gandum. Gandum = wheat, tepung terigu = wheat flour. Lain halnya bila perbandingan anda adalah antara tepung terigu dengan tepung gandum utuh (whole wheat flour). Tepung terigu dibuat dari bagian dalam gandum saja (disebut wheat endosperm) setelah membuang bagian luarnya yang keras dan banyak mengandung serat (disebut wheat bran) dan bagian paling kecil dari inti biji gandum yang mengandung banyak vitamin dan mineral (disebut wheat germ). Oleh karena itu tepung terigu cocok digunakan sebagai bahan dasar pembuat kue, mie dan roti karena kadar elastisitasnya yang lebih tinggi dari tepung gandum utuh. Sedangkan tepung gandum utuh adalah tepung yang diperoleh dengan cara menggiling seluruh bagian biji gandum secara utuh, yaitu endosperm, bran dan germ. Oleh sebab itu kandungan serat dalam tepung gandum utuh mencapai 3-4 kali tepung terigu dan lebih banyak mengandung nutrien.

Rabu, 27 Oktober 2010

Catatan dari Thailand

Weekend kemarin saya dapat kesempatan jalan-jalan ke Thailand dari kantor. Sebenarnya agak kurang minat karena sebelum berangkat mesti ada acara performance show mewakili kanwil, ada nyanyi-nyanyi segala, dan itu saya tidak suka. Apalagi masih ditambah dengan sexy dancers dengan busana pantai. Tapi setelah acara itu terlewati saya fokus ke Thailand, apa kira-kira yang akan saya temui disana ya? Maklum, ini pertama kali saya pergi ke negeri orang.

Masuk di pesawat Thai Airways yang merupakan maskapai best three in Asia dan best five in the world, kesan saya biasa saja. Malah saya 'kebagian' pramugari yang cantik tapi tidak bisa tersenyum dan sepertinya ogah ngobrol atau berinteraksi dengan penumpang. Setiap kali menanyakan sesuatu, dia berbicara seperti robot. Seperti waktu menawarkan minum kopi atau teh, dia hanya bilang : “Coffee or tea?” tanpa ekspresi. Saya sebetulnya mengharap tawaran yang lebih bersahabat, seperti “Would you like coffee or tea, sir?”. Saya jadi iri pada baris kanan yang dilayani pramugara botak namun sangat ramah dan komunikatif. Satu yang baru buat saya, tawaran minuman keras! Sebagai muslim saya jelas menolak, namun beberapa teman lain yang juga muslim malah bersemangat dengan alasan coba-coba. I hate that!

Setelah perjalanan tiga jam yang dingin, sampai juga saya di Bangkok International Airport yang baru, Bandara Suvarnabhumi. Merasa akrab dengan kata-kata itu? Jangan heran, jaman dulu kebudayaan kerajaan budha Indonesia satu sumber dengan Thailand. Bandara ini dibangun pemerintah untuk menggantikan bandara internasional lama, Don Muang. Kapasitas Don Muang sebesar 14 juta penumpang per tahun tidak lagi memadai untuk menampung penumpang, maka dibangunlah bandara baru dengan kapasitas 24 juta penumpang per tahun. Saya kagum dengan bandara baru ini, luas, canggih, rapi, dan tentu saja, bersih. Sangat jauh dengan bandara Soekarno Hatta di Jakarta. Satu hal yang menarik perhatian saya, jalan di dalam bandara ini dirancang khusus agar dapat dilewati mobil khusus bandara, mirip mobil golf. Kegunaan mobil ini untuk mengantar dan menjemput penumpang yang mepet dengan jadwal keberangkatan pesawat. Jika ada penumpang yang baru masuk boarding sedangkan pesawat sudah hampir siap, petugas di bagian boarding akan menghubungi petugas di mobil untuk ‘melarikannya’ ke gate keberangkatan. Jadi tidak kita temukan lagi penumpang berlari-lari tergopoh-gopoh sambil menenteng tas menuju gate.

Setelah keluar bandara, kami seluruh rombongan naik bus yang telah dipersiapkan. Sejenak saya mengamat-amati suasana sekitar. Pandangan saya tertuju pada dua pria dan seorang wanita yang berjalan menghampiri temannya. Ketika bertemu, mereka saling bersalaman namun saat dengan wanita itu para pria tidak bersalaman namun saling mengatupkan tangan di depan dada, salam khas Thailand. Mengejutkan, negeri yang terkenal dengan industry sexnya, ternyata mempunyai budaya sehari-hari yang sopan. Saya kemudian teringat saat keluar dari pesawat, sang pramugara menyalami dengan hangat namun sang pramugari mengatupkan tangan di dada. Kebiasaan sopan tersebut makin kental tatkala ada seseorang teman pria yang mencoba merangkul tour guide wanita saat foto bersama, guide tersebut menolak dengan tegas sambil mengatakan kalau hal itu tidak boleh karena tidak sopan. Peserta tour kami yang wanita dan muslimah, malah tidak ada yang begitu.

 

Saat berkeliling kota, kami dijelaskan tentang cirri khas Bangkok. Salah satunya, disana sangat jarang orang membunyikan klakson jika tidak sangat penting dan mengancam keselamatan. Makanya walaupun macet, tidak ada satu suara klaksonpun yang terdengar. Juga ada bus gratis. Bus ini warnanya merah putih, tanpa AC. Sopir bus ini dibayar pemerintah dari pajak, sedangkan penumpangnya gratis semua. Ceritanya, dulu saat krisis tahun 2008, banyak pengangguran. Pemerintah kemudian mengadakan proyek bus gratis bagi masyarakat. Menurut saya, inilah contoh bentuk subsidi yang riil dan menyentuh langsung ke rakyat. Sang sopir mendapat pekerjaan, sedangkan masyarakat dapat pengangkutan gratis yang membantu mengurangi beban hidup mereka khususnya biaya transportasi. Bandingkan dengan slogan subsidi di Indonesia!

Sebenarnya keindahan Thailand, terutama alamnya, kalah jauh bila dibandingkan dengan Indonesia. Produk utama wisata Thailand adalah kuil dan istana raja. Kemudian dikembangkan dengan pasar terapung, wisata sungai, atraksi gajah, wisata kuliner, wisata belanja, dan belakangan … wisata seks. Saya sendiri mengamati, sungai di Bangkok pun biasa-biasa saja, tidak terlalu jernih dan rapi, bahkan Sepanjang sungai banyak rumah-rumah sederhana lengkap dengan jemurannya tetapi memang jauh dari kesan kumuh seperti di Jakarta. Begitu juga kulinernya, tidak terlalu jauh dengan Indonesia. Tapi mereka pandai mengemas dan memasarkannya, ditambah kondisi social keamanan yang mendukung. Slogan wisata mereka adalah Thaliand, The Land of Smiles. Maaf, untuk yang satu ini saya kurang sependapat. Sepanjang 4 hari di Thailand, saya jarang menemui orang tersenyum ramah menyapa. Mulai dari petugas bandara, petugas hotel, petugas tempat-tempat wisata, maupun pedagang-pedagangnya, tidak banyak yang tersenyum ramah menyapa kami. Sekali lagi, keramahan Indonesia masih jauh lebih hangat. Atau mungkin karena kami bukan bule? Entahlah, yang pasti saat kami pergi sendiri-sendiri, tidak bersama rombongan, para pedagang sering menawarkan dagangan dengan bahasa Thailand karena mengira kami sama-sama penduduk Thailand juga, he he.

 

Satu lagi, tentang raja Thailand, Bhumiphol keenam atau Bhumibol Adulyadej, sangat dicintai rakyatnya. Tour guide kami menjelaskan kenapa raja ini sangat dicintai rakyatnya. Bisa dibilang kejayaan Thailand sekarang ini adalah hasil perjuangan beliau. Raja ini sangat merakyat, manjauhkan diri dari kemewahan. Dulu saat muda, raja sering berkelana ke seluruh pelosok Thailand. Tidak jarang orang tidak tahu bahwa dia adalah raja Thailand. Jika dia menemukan sesuatu hal yang menonjol pada suatu daerah, dia akan mencari orang yang paling menguasai hal tersebut, dia akan membawa orang tersebut ke istana. Disana orang tersebut dilatih agar semakin ahli di bidangnya. Setelah selesai, orang tersebut dikembalikan ke daerahnya untuk membagi ilmunya kepada para penduduk disana. Dan itu semua dibiayai dengan uang dari kantong raja sendiri! Bukan dari kas Negara! Hasilnya, Thaliand sekarang terkenal dengan durian montong, jambu Bangkok, tarian khas, dan lain-lain. Lebih mengejutkan lagi ketika sang tour guide menceritakan buku favorit sang raja, Al-Qur’an dan hadits!! Rupanya sang raja mengambil prinsip-prinsip manajemen Negara dari kitab-kitab tersebut. Sebagai muslim dan berasal dari Negara yang mayoritas muslim, saya malu dengan kenyataan tersebut.

Itulah sekilas kesan saya tentang Thailand. Negeri yang mayoritas beragama Budha, namun dalam pemerintahannya jauh lebih Islami dibanding Negara Indonesia yang mayoritas beragama islam. Ironis….

Selasa, 20 Juli 2010

Mangkok China Kuno Patahkan Teori Darwin !


Mangkok China Kuno Patahkan Teori Darwin !



Kepingan-kepingan tembikar yang baru-baru ini ditemukan oleh para pakar ilmu purbakala di Gua Yuchanyan di Cina telah sekali lagi merobohkan pemikiran evolusionis mengenai sejarah. Menurut sebuah laporan di BBC News, usia pecahan-pecahan tersebut yang telah ditentukan dengan menggunakan 40 macam teknik Karbon-14 yang berbeda berkisar antara 17.500 dan 18.300 tahun. Keberadaan periuk setua itu merupakan sebuah kekalahan penuh, dalam istilah evolusinis, karena mereka menyatakan bahwa manusia memulai kehidupan beradab dan menetap pada masa yang mereka sebut sebagai Zaman Batu.

Evolusonis menyatakan bahwa manusia pertama adalah makhluk setengah-kera yang bentuk tubuh dan kemampuan akalnya berkembang seiring dengan perjalanan waktu, bahwa mereka mendapatkan keterampilan baru, dan bahwa peradaban berevolusi disebabkan oleh hal tersebut.

Menurut pernyataan ini, yang didasarkan pada ketiadaan bukti ilmiah apa pun, nenek moyang purba kita yang diduga ada itu menjalani hidup sebagai binatang, lalu menjadi beradab hanya setelah mereka menjadi manusia, dan menunjukkan kemajuan budaya seiring dengan bertambah majunya kemampuan akal mereka.

Gambar-gambar khayalan dari apa yang disebut sebagai Manusia purba, dengan tubuh yang seluruhnya tertutupi bulu binatang, atau sedang membuat api sembari jongkok di bawah kulit binatang, tengah berjalan di sepanjang tepi wilayah perairan sembari memanggul hewan yang baru saja dibunuh, atau sedang berusaha berkomunikasi dengan sesamanya menggunakan gerakan isyarat dan bersungut-sungut, adalah gambar rekayasa yang dilandaskan pada pernyataan tidak ilmiah ini.

Namun, temuan-temuan purbakala yang dihasilkan hingga kini dari Zaman Batu, di mana evolusionis menyatakan bahwa “manusia waktu itu baru saja belajar berbicara”, menunjukkan bahwa manusia di masa itu sudah menjalani hidup berkeluarga, melakukan bedah otak dan memahami seni lukis dan musik.

Oleh karena serpihan periuk berusia sekitar 18.000 tahun yang ditemukan di Gua Yuchanyan di Cina juga menampakkan tanda-tanda kehidupan yang berperadaban, maka ini pun membantah “urutan zaman-zaman sejarah” karangan evolusonis. Kepingan-kepingan mangkuk ini, yang usianya ditetapkan antara 17.500 dan 18.300 tahun, adalah sisa-sisa peninggalan tembikar tertua yang pernah ditemukan. Menurut pernyataan evolusionis, manusia semestinya belum menjalani hidup menetap di masa yang disebut sebagai Zaman Batu, dan mestinya hidup di gua-gua sebagai pemburu purba yang menggunakan perkakas yang terbuat dari batu.

Namun temuan-temuan purbakala secara ilmiah membuktikan justru sebaliknya. Pecahan-pecahan barang yang terbuat dari tanah liat yang ditemukan di Gua Yuchanyan itu secara telak menyingkap ketidakabsahan pernyataan evolusonis, yang sejatinya tidak lebih dari khayalan.

Biji-bijian padi juga ditemukan di gua yang sama di tahun 2005. Secara keseluruhan, temuan-temuan ini menunjukkan bahwa manusia yang hidup 18.000 tahun lalu telah bertani dan hidup berperadaban sebagaimana yang dilakukan manusia masa kini.

Kemajuan dan temuan seperti ini yang terjadi di cabang-cabang ilmu pengetahuan seperti arkeologi dan antropologi menyingkapkan bahwa “gagasan evolusi budaya dan masyarakat manusia” adalah sesuatu yang palsu. Temuan yang dihasilkan selama penggalian-penggalian purbakala dengan jelas menampakkan bahwa sejarah ditafsirkan oleh para ilmuwan Darwinis berdasarkan prasangka ideologi materialis. Dongeng “Zaman Batu” tidaklah lebih dari upaya kalangan materialis dalam rangka menampilkan manusia sebagai sebuah makhluk hidup yang berevolusi dari binatang yang tidak berakal dan memaksakan dongeng yang mereka yakini ini pada ilmu pengetahuan.

sumber : http://15meh.blogspot.com/2010/04/mangkok-china-kuno-patahkan-teori.html

Senin, 15 Februari 2010

Kisah Seguci Emas

Kisah Seguci Emas

Oleh : Al-Ustadz Abu Muhammad Harist

Sebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”

Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”

Salah satu dari mereka berkata: “Saya punya seorang anak laki-laki.”

Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”

Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”

Sungguh, betapa indah apa yang dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan. Wallahul musta’an.

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka. Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.

Kedua lelaki ini tetap bertahan, lebih memilih sikap wara’, tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram? Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.” Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita sampaikan melalui kisah ini.

Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya. Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.

Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah.

Kemudian, mari perhatikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma:

“Siapa yang terjatuh ke dalam syubhat (perkara yang samar) berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram.”

Sementara kebanyakan kita, menganggap ringan perkara syubhat ini. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, bahwa siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar itu, bisa jadi dia jatuh ke dalam perkara yang haram. Orang yang jatuh dalam hal-hal yang meragukan, berani dan tidak memedulikannya, hampir-hampir dia mendekati dan berani pula terhadap perkara yang diharamkan lalu jatuh ke dalamnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan pula dalam sabdanya yang lain:

“Tinggalkan apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu.”

Yakni tinggalkanlah apa yang engkau ragu tentangnya, kepada sesuatu yang meyakinkanmu dan kamu tahu bahwa itu tidak mengandung kesamaran. Sedangkan harta yang haram hanya akan menghilangkan berkah, mengundang kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghalangi terkabulnya doa dan membawa seseorang menuju neraka jahannam.

Tidak, ini bukan dongeng pengantar tidur. Inilah kisah nyata yang diceritakan oleh Ash-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

Kedua lelaki itu menjauh dari harta tersebut sampai akhirnya mereka datang kepada seseorang untuk menjadi hakim yang memutuskan perkara mereka berdua. Menurut sebagian ulama, zhahirnya lelaki itu bukanlah hakim, tapi mereka berdua memintanya memutuskan persoalan di antara mereka.

Dengan keshalihan kedua lelaki tersebut, keduanya lalu pergi menemui seorang yang berilmu di antara ulama mereka agar memutuskan perkara yang sedang mereka hadapi. Adapun argumentasi si penjual, bahwa dia menjual tanah dan apa yang ada di dalamnya, sehingga emas itu bukan miliknya. Sementara si pembeli beralasan, bahwa dia hanya membeli tanah, bukan emas. Akan tetapi, rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat mereka berdua merasa tidak butuh kepada harta yang meragukan tersebut.

Kemudian, datanglah keputusan yang membuat lega semua pihak, yaitu pernikahan anak laki-laki salah seorang dari mereka dengan anak perempuan pihak lainnya, memberi belanja keluarga baru itu dengan harta temuan tersebut, sehingga menguatkan persaudaraan imaniah di antara dua keluarga yang shalih ini.

Perhatikan pula kejujuran dan sikap wara’ sang hakim. Dia putuskan persoalan keduanya tanpa merugikan pihak yang lain dan tidak mengambil keuntungan apapun. Seandainya hakimnya tidak jujur atau tamak, tentu akan mengupayakan keputusan yang menyebabkan harta itu lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangannya. Pelajaran yang kita ambil dari kisah ini adalah sekelumit tentang sikap amanah dan kejujuran serta wara’ yang sudah langka di zaman kita.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarah Riyadhis Shalihin mengatakan:
Adapun hukum masalah ini, maka para ulama berpendapat apabila seseorang menjual tanahnya kepada orang lain, lalu si pembeli menemukan sesuatu yang terpendam dalam tanah tersebut, baik emas atau yang lainnya, maka harta terpendam itu tidak menjadi milik pembeli dengan kepemilikannya terhadap tanah yang dibelinya, tapi milik si penjual. Kalau si penjual membelinya dari yang lain pula, maka harta itu milik orang pertama. Karena harta yang terpendam itu bukan bagian dari tanah tersebut.

Berbeda dengan barang tambang atau galian. Misalnya dia membeli tanah, lalu di dalamnya terdapat barang tambang atau galian, seperti emas, perak, atau besi (tembaga, timah dan sebagainya). Maka benda-benda ini, mengikuti tanah tersebut.

Kisah lain, yang mirip dengan ini, terjadi di umat ini. Kisah ini sangat masyhur, wallahu a’lam.

Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya.

Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?

Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”

Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”

“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.

“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.

Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.

Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keadaan gelisah dan ketakutan: “Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa saya datang ke sini?”

“Tidak,” kata pemilik kebun.

“Saya datang untuk minta kerelaan anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah yang setengah lagi.”

“Saya tidak akan memaafkanmu, demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku,” katanya.

Tsabit bertanya: “Apa syaratnya, wahai hamba Allah?”

Kata pemilik kebun itu: “Kamu harus menikahi putriku.”

Si pemuda tercengang seraya berkata: “Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri anda? Ini anugerah yang besar.”

Pemilik kebun itu melanjutkan: “Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan.”

Akhirnya pemuda itu berkata: “Baiklah, saya terima.”

Si pemilik kebun berkata pula: “Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri.”

Pemuda itu sekali lagi terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil?

“Kalau kau mau, datanglah sesudah ‘Isya agar bisa kau temui istrimu,” kata pemilik kebun tersebut.

Pemuda itu seolah-olah didorong ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki kamar istrinya dan memberi salam.

Sekali lagi pemuda itu kaget luar biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini? Siapa gerangan dia?

Akhirnya dia bertanya siapa gadis itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.

Istrinya itu balik bertanya: “Apa yang dikatakan ayahku?”

Kata pemuda itu: “Ayahmu mengatakan kamu buta.”

“Demi Allah, dia tidak dusta. Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

“Ayahmu mengatakan kamu bisu,” kata pemuda itu.

“Ayahku benar, demi Allah. Saya tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka.”

“Dia katakan kamu tuli.”

“Ayah betul. Demi Allah, saya tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

“Dia katakan kamu lumpuh.”

“Ya. Karena saya tidak pernah melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Pemuda itu memandangi wajah istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu’man; Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah rahimahullahu, yang dikenal sebagai Al-Imam Abu Hanifah.

Duhai, sekiranya pemuda muslimin saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. Duhai, sekiranya para pemudinya seperti sang ibu, dalam ‘kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan kelumpuhannya’.

Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah yang mengambil pelajaran?
Wallahul Muwaffiq.

Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=777

Diupload kembali oleh www.wahonot.wordpress.com

Jumat, 15 Januari 2010

Serba-Serbi Perdagangan Yang Dilarang Syari'at

Serba-Serbi Perdagangan Yang Dilarang Syari'at

Jual beli yang menyita waktu ibadah

Dalam hal ini si pedagang waktunya habis untuk berjualan dan membeli barang dagangan (kulak). Sehingga terlambat dalam menunaikan shalat berjamaah di masjid, atau menunaikan-nya di akhir waktu dan tak jarang sampai kehilangan waktu shalat.

Allah telah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui" (QS. Al jumuah:9)

Juga firmanNya yang lain, artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari meng-ingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi". (QS: Almunafiqun: 9)

Perhatikan firmanNya: "Maka mereka itulah orang-orang yang rugi", disini Allah menghukumi mereka dengan "kerugian" walau secara lahirnya menangguk keuntungan dan laba yang banyak. Hal ini disebabkan harta dan anak-anaknya yang banyak tidak akan bisa menggantikan waktu shalat dan dzikrullah yang ia tinggalkan, dan inilah kerugian yang sebenarnya. Keuntungan bagi seorang muslim hanyalah jika dapat mengumpulkan dua kebaikan, yakni mencari rizki dan beribadah, artinya berjual beli pada waktunya, dan ketika datang waktu shalat ia menunaikan pada waktunya.

Perdagangan itu ada dua macam, dunia dan akhirat. Perdagangan dunia dengan harta dan kerja, sedang perdagangan akhirat dengan amal ibadah yang shaleh.
Firman Allah QS: As Shaf 10:11
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya."

Inilah perdagangan yang sangat besar dan tak terbanding jika diukur dengan perdagangan dunia. Maka Allah menyebut sebagai orang yang rugi jika sibuk mengurusi pedagangan dunia dan meninggalkan perdagangan akhirat.

Sebagian orang mengira bahwa shalat hanya mengurangi efektifitas kerja atau berdagang, sebab akan membuang waktu. Padahal yang benar adalah sebaliknya ia akan membuka pintu rizki, kemudahan dan keberkahan, sebab rizki itu di tangan Allah, jika seseorang mengingatNya (berdizikir) dan beribadah kepadaNya, dengan izinNya Allah akan mempermudah dan membuka pintu rizki untuknya.

Allah berfirman: "Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat.Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. 24:37)

Jual beli barang haram

Ketika Allah mengharamkan sesuatu maka harga (nilai) dari barang itu juga haram, jadi barang haram tidak boleh diperjualbelikan. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam melarang menjual bangkai, khomer, babi dan patung.

  • Jual beli khomer
    Mengenai khomer Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah melaknat khamer, yang memeras/membuatnya, yang minta diperaskan, yang menjualnya, yang membelinya, yang meminumnya, yang memakan hasil penjualannya, yang membawakannya , yang dibawakan kepadanya dan yang menuangkannya." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

    Khamer adalah segala sesuatu yang memabukkan dan menghilangkan akal, apapun jenis dan mereknya. Termasuk dalam hal ini adalah segala jenis narkoba, ganja, ophium,kokain, heroin dan sebagainya bahkan ini semua lebih parah lagi. Demikian pula jual beli rokok, mengingat keberadaannya yang membahayakan, mengganggu orang lain, juga menyia-nyiakan harta.

    Semua orang, termasuk pihak yang memproduksinya sepakat bahwa rokok adalah tidak baik dari semua segi.
    Jual beli alat-alat musik
    Seperti drum, gitar dan lain sebagainya yang biasa dipakai para musisi untuk mengiringi suatu nyanyian.

  • Jual beli gambar (makhluk hidup) dan patung
    Baik dalam rupa binatang ternak, kuda, burung maupun manusia. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam melaknat para perupa dan memberitahukan bahwa mereka termasuk orang yang berat siksanya di hari kiamat.

  • Jual beli kaset-kaset yang berisi lagu-lagu tentang syahwat dan cinta
    Lebih-lebih kaset film yang berbau pornografi, di dalamnya hanya berisikan percintaan, pacaran dan percumbuan yang dapat mempengaruhi para remaja dan menggiring mereka kepada akhlak dan perilaku yang buruk.

  • Menjual sesuatu/benda yang diketahui akan digunakan untuk sesuatu yang dilarang
    Karena termasuk tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran, seperti menjual anggur yang di ketahui akan diolah menjadi khomer, atau menjual senjata yang akan digunakan untuk merampok ,membunuh orang dan sebagainya.Lebih-lebih jika untuk menyerang atau mencelakai kaum muslimin.

  • Menjual sesuatu yang tidak dimiliki
    Yaitu jika ada seseorang ingin membeli suatu barang tertentu,sedang sipenjual tidak memiliki barang tersebut. Lalu keduanya sepakat menentukan suatu harga, baik cash ataupun tempo, namun barang tersebut masih belum ada, baru setelah itu sipenjual pergi mencari barang yang dimaksudkan.

    Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Hakim bin Hizam Radhiallaahu 'anhu yang bertanya tentang jual beli seperti ini:
    "Janganlah menjual barang yang tidak kau miliki." (HR. Abu Daud)

  • Baiul 'Inah/jual beli iinah
    Yaitu kita menjual sesuatu barang kepada orang lain dengan sistim tempo, kemudian setelah itu barang tersebut kita beli lagi dengan cash namun dengan harga yang lebih murah dari pada harga pertama waktu kita jual. Ini termasuk katagori riba, sedang barang dagangan disini hanya sebagai wasilah/perantara. Hendaknya orang tersebut menjual barang itu kepada orang lain,bukan kepada kita.

  • Bai'un Najasy/jual beli najasy
    Yaitu sipenjual menawarkan barang kepada pembeli dan terjadi tawar menawar, tiba-tiba datang orang lain menawar dengan harga yang lebih tinggi, padahal ia tidak ingin membelinya, namun hanya sekedar menaikan harga. Biasanya sudah ada kesepakatan antara penjual dan pihak ketiga tersebut.Berdagang seperti ini termasuk jenis penipuan, termasuk juga penjual yang mengatakan: "Si fulan telah membelinya dengan harga sekian, atau kemarin ku lepas dengan harga ini," padahal sebenarnya tidak.

  • Merusak transaksi dagang sesama muslim
    Misalnya, jika ada orang ingin membeli sesuatu produk kepada salah satu pedagang, lalu keduanya menentukan khiyar (masa transaksi) dua atau tiga hari. Maka pedagang yang lain tidak boleh ikut campur disitu dan mengatakan: "Jangan beli sama dia, namun beli saja sama saya, barangnya sama bahkan lebih bagus dan harganya saya beri lebih murah."
    Demikian juga pembeli tidak boleh membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan mengatakan akan membelinya dengan harga yang lebih tinggi.

  • Menipu dalam berdagang
    Yakni penjual menjual barang yang cacat dan ia tahu itu, namun tidak memberitahukan kepada pembelinya. Demikian pula orang yang menjual makanan atau buah-buahan dengan meletakkan yang masih bagus di bagian atas sebagai penarik, lalu ketika ada yang beli diambilkan yang buruk yang ada dibawahnya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
    "Dua orang penjual – pembeli punya hak memilih selagi belum berpisah. Jika keduanya jujur dan saling menjelaskan keduanya mendapatkan barokah dalam jual belinya. Dan jika keduanya berdusta dan saling menyembunyikan di cabut barokah dari jual belinya." (HR Al Bukhari - Muslim)


    Dari buku "Al-Buyu' Al-Manhiy 'anha fil Islam", karya Syaikh Shalih Al-Fauzan.


  • Sumber : http://www.alsofwah.or.id/cetakannur.php?id=151

Selasa, 12 Januari 2010

Berhentilah Mengkhawatirkan Kesehatan!

Artikel di bawah ini mengingatkan kita akan sunnah Rasulullah. Anjuran tidur 8 jam sehari sangat tidak sesuai dengan tidur Rasulullah. Intinya, semua itu seperlunya saja, jangan berlebihan. Untuk masalah makan, Rasulullah sudah menjelaskan 14 abad yang lampau, makan saat lapar, berhenti tepat sebelum kenyang. Tidak ada yang lebih baik dari itu!!

Berhentilah Mengkhawatirkan Kesehatan!
Kompas, Rabu, 13 Januari 2010 | 09:36 WIB
shutterstock
Hm..berapa lingkar pinggangku sekarang yah?
Sumber : New York Times
KOMPAS.com — Hampir setiap hari kepala kita dijejali oleh berbagai nasihat penting tentang kesehatan. Mulai dari pentingnya olahraga, tidur cukup, hingga konsumsi lima macam buah setiap hari. Sayangnya, hanya sedikit orang yang mempraktikkan apa yang sudah didengarnya.

Dr Susan M Love, pakar kesehatan perempuan, dalam bukunya, Live a Little! Breaking the Rules Won’t Break Your Health, mengatakan, menjalankan semua petuah tentang kesehatan adalah tidak mungkin. "Lagi pula, sebagian besar dari kita sudah sehat, lebih dari apa yang kita duga," ujarnya.

Karena itulah, Susan menawarkan aturan baru dalam gaya hidup sehat: berhenti mengkhawatirkan kesehatan. Ia mengatakan, menjalankan semua aturan kesehatan justru bisa menimbulkan stres dan rasa bersalah. "Bagi sebagian besar masyarakat, 'cukup sehat' sudah ideal," kata dokter spesialis bedah ini.

"Apa yang Anda cari dari hidup sehat yang Anda jalani, apakah untuk hidup selamanya?" tanyanya. Yang paling penting adalah hidup selama yang kita bisa dengan kualitas hidup yang baik, lanjutnya.

Ia juga mengkritik orang-orang yang bersikap berlebihan terhadap kesehatannya. "Banyak orang yang takut kena penyakit atau takut mati hanya karena tidak makan cukup buah yang mengandung antioksidan," sindirnya.

Dalam buku terbarunya yang ditulis bersama Alice D Domar, profesor dari Beth Israel Deaconess Medical Center, ia mengeksplorasi enam faktor dalam kesehatan, yakni tidur, stres, pencegahan, nutrisi, olahraga, dan hubungan dengan orang lain. Dari semua faktor tersebut, ia berpendapat, risiko kesehatannya sangat ekstrem, bahkan dalam skala menengahnya pun lebih besar dari yang kita kira.

Misalnya saja dalam hal waktu tidur yang cukup. Kebanyakan orang percaya, mereka harus tidur sedikitnya 8 jam sehari. Namun, hasil studi yang dipaparkan para ahli dikerjakan dalam kondisi yang ideal, yakni para responden penelitian tidur dalam suasana sunyi, gelap, dan tidak memikirkan hal lain karena mereka sedang berada dalam penelitian.

"Padahal, faktanya, waktu tidur setiap orang sangat bervariasi dan sifatnya individual, ada yang butuh lebih dari 8 jam, ada juga yang kurang dari 8 jam pun sudah cukup," katanya. "Kita harus bersikap realistis. Bila pada pagi hari kita masih mengantuk dan lesu, itu artinya durasi tidur kita kurang. Namun, meski Anda hanya tidur 5 jam dan tetap merasa bugar, jangan khawatirkan waktu tidur yang ideal," lanjutnya.

Demikian juga dengan olahraga. Banyak orang yang khawatir mereka kurang berolahraga. "Padahal, apa yang kita lakukan sehari-hari, seperti mencuci, menyapu, atau  naik tangga, sudah termasuk aktivitas fisik," ujar Susan.

Para ahli kesehatan selama ini sepakat bahwa sesuatu yang moderat, tidak berlebihan, dan tak kurang adalah hal yang penting. Karena itu, kita tak perlu terlalu panik pada kesehatan.

Dr Susan dan Dr Domar mengatakan, mereka menulis buku ini karena prihatin banyak orang yang salah mengerti tentang kesehatan. "Intinya adalah menggunakan logika kita. Bila Anda merasa bugar dan baik-baik saja, maka Anda sehat. Jangan terlalu menghukum diri. Bersikaplah santai sedikit dan nikmati hidup ini," pesannya.

Berkah Menepati Janji

Contoh Kecil Berkah Menepati Janji Sudah beberapa hari ini putriku yang kedua merengek minta diantar pakai motor. Bibirnya monyong saa...