Kamis, 20 Agustus 2009

Hadits palsu ttg malaikat jibril menjelang ramadhan

Setiap kali Ramadhan semakin menjelang, sering kita menerima dan memberi pesan mengucapkan selamat menyambut ramadan dan ada juga nasihat-nasihat yang boleh kita jadikan sebagai muhasabah pada diri kita, akan tetapi kita wajib berhati-hati juga karena dalam kita hendak berbuat kebajikan kita juga tidak terlepas dari membuat dosa kerana ketidaktelitian kita atas apa yang telah kita sebarkan, seperti yang telah diforwadkan melalui yahoo mesengger tentang sebuah hadis berkaitan doa Jibril dan diaminkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta para Sahabat. Hadis tersebut berbunyi:

Malaikat jibril Menjelang Ramadhan “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

* Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);

* Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;

* Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.” Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak3 kali.

Inilah hadis yang tidak diketahui kesahihannya!! Memang ada hadis yang mirip dengan hadits yang difowardkan itu namun isinya sangat berbeda. Hadis itu adalah seperti berikut. Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhuma:

:

أن النبي صلى الله عليه وسلم رَقَى المِنبر فَلما رَقَى الدَّرجة الأُولى قال : ( آمِين ) ثُم رَقى الثَانية فَقال : ( آمِينَ ) ثُم رَقى الثَالثة فَقال : ( آمِينَ ) فقالوا : يا رسول الله سَمعنَاك تَقولُ : ( آمينَ ) ثَلاث مَرات ؟ قال : ( لَما رَقيتُ الدَّرجةَ الأُولى جَاءِني جِبريلُ صلى الله عليه وسلم فَقال : شَقي عَبدٌ أَدركَ رمضانَ فانسَلخَ مِنهُ ولَم يُغفَر لَه فَقلتُ : آمِينَ ، ثُم قَال شَقي عَبدٌ أَدرك والدَيهِ أَو أَحدَهُما فَلم يُدخِلاهُ الجنَّةَ . فَقلتُ : آمينَ . ثُم قَال شَقي عَبدٌ ذُكرتَ عِندهُ ولَم يُصلِ عَليك . فَقلتُ : آمينَ )

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Amin, amin, amin”.

Para sahabat bertanya.”Kenapa engkau berkata amin, amin, amin, wahai Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’.

Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi itu tidak memasukkan dia ke syurga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’ “.

Kemudian Jibril berkata lagi.’Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’.” [Dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari di dalam Adab al-Mufrad dan dinilai Sahih Lighairihi oleh al-Albani di dalam Sahih Adab al-Mufrad – no: 644]

Isinya seakan-akan sama tetapi matan (isi kandungan) hadis tersebut ternyata berbeda dan hadis ini masyhur di dalam kitab-kitab yang membicarakan tentang Ramadhan. Namun kini nampaknya hadis yang tidak diketahui sahih ataupun tidak itu telah menjadi lebih terkenal dari hadis aslinya.

Para Sahabat sekalipun pernah hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak mengamalkan sikap bermudah-mudahan dalam mennyampaikan hadis selepas kewafatan Rasulullah. Mereka sangat teliti dan berhati-hati, berbeda sekali dengan kita pada hari ini,begitu mudah dan kebanyakan yang menyebarkan hadis itu sendiri tidak sadar bahawa tidak semua hadis itu sahih (authentic) hanya karena ada lafal “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda” atau “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan itu dan ini” terus kita sebarkan siap berserta emoticon senyuman tanpa teliti dan berhati-hati.

Para Sahabat takut menjadi orang yang banyak meriwayatkan hadis karena khawatir mereka terjerumus ke dalam kesilapan dan kesalahan, hingga akhirnya membawa mereka untuk berdusta ke atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, suatu perbuatan yang amat tercela dan mendapat ancaman yang sangat buruk daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. [Manna’ Khalil al-Qathan, Mabahats Ulumul Hadis (Cara Mudah Memahami Ilmu-Ilmu Hadis), ms. 66]

Ancaman yang dimaksudkan itu adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Barang siapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka. [Sahih Muslim – no: 3]


Sekiranya kita tidak pasti apabila menerima suatu hadis, kita ada tiga pilihan:

[1] Menyelidik dan menyemaknya bagi yang berkemampuan.

[2] Bertanya kepada yang lebih mengetahui terutama mengenai ilmu hadis .

[3] Berdiam diri / tidak menyebarkannya sekiranya tidak mampu melakukan kedua-dua perkara diatas sehinggalah telah jelas hujah bahwa hadis tersebut sahih.

Contohilah sahabat yang begitu berhati-hati dalam meriwayatkan hadis kerana khuatir terjerumus dalam ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Ingatlah Firman Allah Subhana wa Ta’ala:

ووَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُول

Dan janganlah engkau mengikut apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya; sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta hati, semua anggota-anggota itu tetap akan ditanya tentang apa yang dilakukannya. [al-Isra’ 17:36]

Berkah Menepati Janji

Contoh Kecil Berkah Menepati Janji Sudah beberapa hari ini putriku yang kedua merengek minta diantar pakai motor. Bibirnya monyong saa...