Minggu, 06 Januari 2008

Kata-kata Bijak dari CEO Kelas Dunia

Moga-moga bermanfaat...

Sumber : www.indomp3z.us


Kata-kata Bijak dari CEO Kelas Dunia
Takut akan kegagalan seharusnya tidak menjadi alasan
untuk tidak mencoba sesuatu.

Kepemimpinan adalah Anda sendiri dan apa yang Anda
lakukan.

Frederick Smith,
Pendiri Federal Express
**************************

Kejujuran adalah batu penjuru dari segala kesuksesan,
Pengakuan adalah motivasi terkuat.

Bahkan kritik dapat membangun rasa percaya diri saat
"disisipkan" diantara pujian.

May Kay Ash,
Pendiri Kosmetik Mary Kay
**************************

Jika Anda dapat memimpikannya, Anda dapat
melakukannnya.

Ingatlah, semua ini diawali dengan seekor tikus,
Tanpa inspirasi.... kita akan binasa.

Walt Disney,
Pendiri Walt Disney Corporation
**************************

Uang merupakan hamba yang sangat baik, tetapi tuan
yang sangat buruk.

P.T. Barnum,
Anggota Pendiri Sirkus Barnum & Bailey
**************************

Sumber kekuatan baru bukanlah uang yang berada dalam
genggaman tangan beberapa orang, namun informasi di
tangan orang banyak.

John Naisbitt,
Pemimpin Umum Naisbitt Group
**************************

Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat.
Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras.
Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika
kesempatan bertemu dengan kesiapan.

Thomas A. Edison,
Penemu dan Pendiri Edison Electric Light Company
**************************

Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka;
namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu
tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak
melihat pintu lain yang telah terbuka.

Alexander Graham Bell,
Penemu dan Mantan Presiden National Geographic Society
**************************

Jangan biarkan jati diri menyatu dengan pekerjaan
Anda.

Jika pekerjaan Anda lenyap, jati diri Anda tidak akan
pernah hilang.

Gordon Van Sauter,
Mantan Presiden CBS News
**************************

Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di
lima tahun mendatang, kecuali dua hal : orang-orang di
sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca.

Charles "Tremendeous" Jones,
Presiden Life Management Services, Inc.
**************************


Yang terpenting dalam Olimpiade bukanlah kemenangan,
tetapi keikutsertaan ...

Yang terpenting dari kehidupan bukanlah kemenangan
namun bagaimana bertanding dengan baik.

Baron Pierre de Coubertin,
Pendiri & Presiden pertama Komite Olimpiade
International
**************************


Kebahagiaan biasanya merupakan hasil dari sebuah
pengorbanan.

Sebelum tidur, bertanyalah, kebaikan apa yang sudah
kulakukan hari ini ?

Rabu, 02 Januari 2008

Sebuah Email Tentang Rumah Tuhan

Sebuah Email Tentang Rumah Tuhan

2 Jan 08 18:58 WIB

Kirim teman

Oleh Sabrul Jamil

Sebuah e-mail tiba di PC saya. Isinya tentang pengalaman seorang pekerja asing. Ceritanya, pekerja asing itu tiba untuk pertama kalinya di salah satu perkantoran megah di kawasan Jakarta. Usai memarkirkan mobilnya di basement, ia melihat sekelompok orang, laki dan perempuan, tengah melakukan suatu kegiatan yang aneh di matanya, di salah satu ruangan di basement tersebut. Ruang tersebut kecil dan pengap, dengan tembok rendah mengelilinginya.

Sesampainya di atas, orang asing ini bertanya tentang apa yang dilihatnya barusan. Orang Indonesia yang kebetulan muslim menjelaskan bahwa orang-orang di basement tersebut sedang sholat, menyembah Allah, Tuhan umat Islam. Sholat adalah kewajiban yang dilaksanakan sehari lima kali.

Dengan takjub orang asing itu menjawab, betapa rendahnya apresiasi umat Islam terhadap Tuhan mereka. Jika terhadap ia yang cuma manusia bisa disediakan tempat kerja yang lapang dan nyaman, mengapa untuk Tuhan mereka hanya tersisa sebuah ruangan pengap di basement?

Pembaca, tidakkah keheranan orang asing itu menjadi keheranan kita juga?

* * * * *

Suatu sore, di salah satu gedung tinggi di kawasan matraman. Setelah menyelesaikan suatu urusan, saya bertanya ke salah satu karyawan di gedung megah tersebut letak musholla. Sudah lewat pukul empat sore. Karyawan tadi, penuh semangat, menunjukkan letak musholla. Dengan berterima kasih, saya bergegas mengikuti arah yang ditunjukkan. Saya melewati areal parkir yang pengap, suatu kantor yang saya perkirakan markas satpam (banyak satpam yang duduk-duduk di depan kantor tersebut, dengan uniform berantakan), dan sampailah saya ke gedung mungil, dengan tulisan kusam tertempel di salah satu temboknya: MUSHOLLA.

Musholla ini terletak persis di belakang gedung tinggi yang baru saja saya tinggalkan. Ukurannya tak lebih besar dari ruang tamu rumah saya. Temboknya setengah terbuka, dan dimanfaatkan untuk meletakkan sajadah-sajadah, dan... Helm!

Di ruang yang sempit itu ada seseorang yang tertidur pulas. Tempat wudhu terletak tak jauh dari situ. Ada dua kran. Akhirnya, di naungi suasana pengap dan beraroma kurang sedap, saya menunaikan kewajiban saya kepada Rabb Penguasa Jagat. Ada rasa malu yang tak terkatakan, hanya sebegini apresiasi saya kepada Mu, ya Allah.

Saya pulang, meliuk-liuk melewati kemacetan pinggiran kota, dengan setumpuk pikiran di kepala. Sudah berapa kali saya dapatkan, sebuah gedung perkantoran megah, dengan tempat sholat yang mirip dengan gudang?

Karena tuntutan pekerjaan, saya sering keluar masuk kampus dan perkantoran. Dan situasi seperti ini sudah seperti typical: gedung megah, tinggi, dengan lobby dan ruang kerja yang nyaman, namun tak menyisakan satu ruangan pun untuk sholat, suatu ibadah yang nabi katakan sebagai tiang agama. Sebagai gantinya, pihak perkantoran menyediakan tempat sholat di basement, di sela-sela parkir kendaraan. Atau sebaliknya, tempat sholat sering diletakkan di bagian tertinggi gedung, seperti di kantor saya. Ini masih lumayan, karena tempatnya terbuka, sehingga angin dan debu jalan leluasa menerobos. Setidaknya, sholat tidak dilakukan dalam keadaan pengap.

Tentu ada juga gedung-gedung perkantoran yang menyiapkan tempat sholat yang memadai, meski tidak harus mewah. Gedungnya terawat. Sajadah dan mukena secara teratur dibersihkan. Majalah dindingnya secara berkala diupdate.

Pembaca yang baik, sholat adalah sejenis ibadah yang menuntut konsentrasi tinggi. Konsentrasi ini adalah awal kekhusyuan. Dengan khusyu’-lah kualitas sholat diperoleh.

Nah, konsentrasi tentunya memerlukan daya dukung lingkungan. Lingkungan yang bising, pengap, beraroma kurang sedap, secara sunnatullah, akan mengurangi konsentrasi. Rasulullah pernah menolak sajadah yang bergambar, karena khawatir akan mengganggu konsentrasi beliau. Beliau juga memerintahkan imam untuk menyegerakan sholat apabila terdengar suara anak menangis, karena khawatir si ibu akan merasa resah dalam sholatnya.
Selain itu, beliau juga secara optimal membersihkan diri. Salah satu sunnah beliau sebelum sholat adalah bersiwak (menggosok gigi), dan memakai harum-haruman.

Dari situ kita simpulkan, salah satu syarat khusyu’ diperoleh dari situasi dan kondisi ketika sholat. Dilakukan. Terlalu arogan kalau kita menganggap situasi dan kondisi tidak mempengaruhi kekhusyuan sholat kita.

Bagaimana sholat yang dilakukan di tempat-tempat seperti yang saya gambarkan di awal tulisan ini? Saya khawatir pelaksanaan sholat tersebut hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban.

Sesungguhnya, yang bertanggung jawab memakmurkan masjid adalah seluruh orang beriman yang berada di wilayah masjid tersebut. Bagaimana cara mewujudkan tanggung jawab tersebut?
Mungkin, yang pertama kali harus dibangun adalah kesadaran. Kesadaran diperoleh setelah adanya informasi, bahwa Masjid bukanlah sekedar bangunan pelengkap.

Siapa yang harus memulai?

Setidaknya, Anda, setelah membaca tulisan ini, mulai menyusun gagasan praktis, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki situasi di tempat Anda (kecuali kalau Masjid di tempat Anda sudah representatif untuk beribadah). Jadikan ini sebagai peluang amal. Siapa tahu dapat menjadi jalan lain bagi kita untuk bertemu dengan senyumNya.

Sabruljamil. Multiply. Com

Rabu, 12 Desember 2007

Kisah sepotong Kue

Kisah sepotong Kue
Kisah sepotong Kue
Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu,ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk.
Sambil duduk wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya , ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka.
Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam.
Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu.

Wanita itupun sempat berpikir: "Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!“.
Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu.
Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua.
Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir : “Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih”.
Belum pernah rasanya ia begitu kesal.
Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang.

Menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih".
Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan nafas dengan kaget. Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya !!!
Koq milikku ada disini erangnya dengan patah hati.
Jadi kue tadi adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi. Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih.
Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih. Dan dialah pencuri kue itu !



Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi.
Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.
Orang lainlah yang selalu salah
Orang lainlah yang patut disingkirkan
Orang lainlah yang tak tahu diri
Orang lainlah yang berdosa
Orang lainlah yang selalu bikin masalah
Orang lainlah yang pantas diberi pelajaran
Padahal
Kita sendiri yang mencuri kue tadi
Kita sendiri yang tidak tahu terima kasih.

Kita sering mempengaruhi, mengomentari , mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain .
Sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.


i guess sometimes Silent is just the best answer. And, Talk Less and Do more is much better.

everything will be beautiful in His time.

Senin, 10 Desember 2007

Jangan Mudah Mengaku Sibuk

Pertama baca artikel ini langsung nunduk, malu. Artikel ini seperti menelanjangi diriku...

Jangan Mudah Mengaku Sibuk

eramuslim, 11 Des 07 04:08 WIB

Oleh Meralda Nindyasti

“Maaf, saya terlambat memberi kabar. Ada kesibukan yang teramat nyata yang harus saya jalani di kampus. Sekali lagi.. maaf, saya baru sempat. “ kurang lebih SMS itulah yang kubaca dari salah seorang teman SMAku dulu.

Kata-kata yang terangkai dalam SMS itu cukup membuatku geli. Kalimat itu cukup santun, esensi dari kalimat itu pun tak sekali ini aku mendengar ataupun membacanya. Bukan lagi dari 1 atau 2 orang, lebih bahkan…Hmm, dan mungkin aku pun pernah berucap seperti itu, seingatku lebih dari sekali juga..

Ada hal yang menarik, cukup menginspirasi. Kalimat itu mengajakku merenung. Ya, aku sempat tak habis pikir.. pernah diri ini mengaku sibuk, padahal statusku masih mahasiswa. Tentu ucapanku ini belum bersesuaian. Bahkan aku menghakimi diri sendiri karena berucap itu. Kenapa? Karena dalam paradigmaku, kalau saat mahasiswa saja sudah berani mengaku sibuk, maka bagaimana jika sudah bekerja dan berumah tangga?

Berbicara masalah berkeluarga, maka ada dua kosakata yang menjadi kunci, yaitu waktu dan tanggung jawab. Kalau seseorang sudah berkeluarga, bertambahlah amanahnya. Bagi seorang laki-laki, ada amanah untuk menjemput rejeki, menjadi ayah bagi anak-anaknya, menjadi suami bagi isterinya, menjalani profesi pekerjaannya, menjadi anak bagi ayah ibunya, dan jika ia adalah sosok orang yang andil dan berpengaruh terhadap lingkungannya, maka amanah-amanah itu belum masuk hitungan. Ya, begitu pula dengan wanita.

Sekali lagi, aku sampai tak habis pikir, masih berstatus mahasiswa saja sudah berani mengaku sibuk. Sekalipun bukan mahasiswa biasa, dalam arti tak hanya belajar akademik tapi juga non akademik. Tapi itu sungguh bukan alasan bagiku untuk mengaku sibuk. Waktu ku sebagai mahasiswa dengan waktu mereka yang sudah berkeluarga, pun dengan waktu para pemimpin bangsa tetap sama. Sehari 24 jam. Padahal tanggungjawab mereka tentu melebihi diriku.

Jangan mudah berkata sibuk. Karena Rasulullah tidak pernah mengajarkan kita seperti itu. Aku masih bisa membayangkan semulia apa sosok beliau. Dengan berbagai macam amanah dan tanggungjawab yang ada di pundak beliau, tetap, tetap peduli dan selalu melayani. Beliau, seorang pengelola bisnis yang diinvestasikan bunda Khadijah. Beliau lah enterpreneur dengan sifat nabawi:shiddiQ (jujur), amanah (capable), fathanah (smart) dan tabligh (informatif). Beliau, seorang panglima perang, selama 10 tahun di Madinah ada sekitar 300-an detasemen yang beliau bentuk dan berangkatkan. Beliaulah pemimpin negara yang saat menjadi imam shalat, masih sempat bertanya “Di mana si Fulan? Mengapa ia tidak nampak? “. Namun, tetap.beliau begitu tak lalai dalam mengemban amanahnya yang lain, sebagai suami, ayah, teman, dan tetangga. Dan, bandingkan dengan kita, sungguh.. belum seberapa.

“Maaf, saya sibuk “. Ya, tiga kata yang bisa membuat jiwa-jiwa yang mengharap uluran tangan kita menjadi sungkan meminta bantuan kita. Tiga kata yang mampu membuat saudara yang semula ingin berbagi duka dengan kita, kini menjadi enggan karena khawatir makin menyita waktu kita. Inagtkah? Dalam tiap waktu kita, ada hak-hak saudara kita. Dan bisa jadi 3 kata itu menjadi alasan kita untuk lalai memenuhi hak mereka. Tiga kata yang mungkin sering menjadi alasan untuk kita lupa melantunkan bait-bait doa untuk saudara-saudara kita.

Pff, tidak baik jika aku mengeluh dengan mengaku sibuk dan tidak baik jika kepedulian ini merapuh dengan mengaku sibuk. Karena itu, jangan mudah mengaku sibuk, karena masih banyak sisi kehidupan yang belum terjamah. Masih banyak tantangan ummat yang belum terselesaikan. Kerena Islam membutuhkan kontribusi kita lebih besar. Ya, menjadi sebaik-baik hamba yang banyak memberi manfaat. Ya, Totalitas dalam peduli dan melayani.

Moslemalda@yahoo. Com

Minggu, 09 Desember 2007

Islam, Warisan Istimewa yang Diabaikan Barat

Islam, Warisan Istimewa yang Diabaikan Barat

eramuslim, Sabtu, 8 Des 07 05:49 WIB

Roger Garaudy, intelektual terkemuka asal Perancis, punya “angan-angan” menarik dan futuristik. Menurutnya, andai saja Barat memilih dan menerima Islam sebagai sistem atau pandangan hidup (wordview), maka Barat tidak akan melakukan penjajahan di dunia Islam.

Selain itu, bangsa-bangsa Barat juga tidak akan menggelar perang dan merampas hak-hak kehidupan bangsa lain, terutama umat Islam. Inilah nasib tragis yang dialami Barat hingga kini. Mereka ingin dan terus ingin menjajah bangsa-bangsa Muslim dengan berbagai cara dan pola.

Tiap tahun mereka merekayasa hegemoni bangsa-bangsa Muslim yang dianggap sebagai ancaman kepentingan Barat. Mengenai hal ini, kita bisa melihat bagaimana mereka (Amerika Serikat/AS, Inggris, Perancis, Italia, Belanda, Jerman, dan Negara-negara sekutu lainya) bersatu pada memecah wilayah-wilayah Islam di Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Sekitar 2001, seorang tokoh pendidikan keturunan Arab pernah bercerita, AS berharap tahun 2002 Indonesia mengalami Balkanisasi.

Bangsa Barat bersikap serakah terhadap masyarakat Islam, menurut Garaudy, karena mereka memilih renaisans (kelahiran kembali) atau- dalam bahasa orientalis aufklarung (pencerahan)- Italia dibanding memilih renaisans Islam.

Padahal, bila ditelisik masa renaisans Islam lebih dulu lahir di Barat. Tepatnya di Spanyol. Sayangnya renaisans di Spanyol diabaikan Barat, dan mereka memilih renaisans Italia. “Masa kelahiran kembali (renaisans) Barat telah terjadi di Spanyol Islam-ketika Bani Ummayah berkuasa- empat abad sebelum renaisans di Italia, ” terang Gaurady (Roger Garaudy, Promesess de l’Islam, 1981. Alih bahasa Prof. Dr. H. M. Rasyidi).

Ketika Islam masuk di Gibaltar (Jabal Thariq), Spanyol, oleh pasukan Islam di bawah komando Ziyad ibn Thariq, banyak masyarakat Barat yang memilih menjadi Muslim. Sementara mereka yang tetap pada agama Kristen dilindungi kendati mereka tidak memeluk Islam. Tidak ada gereja yang dihancurkan, dan rumah-rumah mewah mereka tetap dibiarkan berdiri.

Setelah Islam diterima di kawasan ini, di tempat ini pula muncul ulama, filsuf, hukama, qadli, dan ilmuan-ilmuan masyhur dan penting yang telah menyumbangkan ilmu-ilmu mereka kepada Barat. Di sini kita bisa menyebut Ibn Rusyd (pakar perbandingan fiqh dan filfasat, Al-Qurtubi (mufasir), dan lainnya di berbagai tempat.

Lembaga pendidikan tinggi setingkat universitas (jami’ah) dan jabatan profesional dalam ilmu adalah temuan muslim. Pengangkatan atau wisuda seorang murid yang telah menyelesaikan pendidikan dan lulus ujian telah menjadi tradisi sejak didirikan universitas tertua di dunia Al-Azhar di Kairo. Tradisi ini mengajarkan bahwa sang murid sudah berhak untuk menjadi muallim (pengajar).

Klasifikasi materi buku-buku di perpustakaan besar memunculkan berbagai karya referensi dan karya bibliografi. Karya ensiklopedi pertama adalah buatan Ikhwan al-Shafa tahun 983 M, tapi Marshal Cavendish-lah 800 tahun kemudian yang dianggap sebagai penemu ensiklopedia hanya karena ia bangsa Barat dan menyusunnya dalam bahasa Inggris.

Ilmu pengetahuan yang maju, peradaban yang tinggi dan perpustakaan besar dengan beribu-ribu buku telah menarik begitu banyak ilmuan dari seluruh penjuru dunia tak terkecuali ilmuan Barat yang sengaja belajar ke pusat-pusat peradaban Islam tersebut. Pada gilirannya para ilmuan Barat yang pulang kembali ke negerinya menjadi sebab munculnya renaisans di Barat.

Methode ilmiah adalah sumbangan peradaban Islam terbesar pada pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam laporan laboratorium Al-Battani (w. 929M), Al-Biruni (w. 1048M) dan Ibnu Haitsam (w. 1039M), kita bisa jumpai penjelasan dan penggunaan methode tersebut. Tapi yang dianggap penemu methode ilmiah adalah Roger Bacon karena ia mensekulerkan ilmu pengetahuan dengan methode ilmiah tersebut.

Di bidang matematika, Al-Khwarizmi (w. 850) menemukan algoritma (diambil dari namanya) dan aljabar (dari judul bukunya berjudul Al-Jabr wa al-Muqobbala), 300 tahun kemudian dunia Barat mengenal angka nol dan mengadopsi angka Arab dan meninggalkan sistem angka romawi yang rumit dan tak bertele-tele. Sunguhpun kini aljabar dan algoritma wajib diajarkan, tak ada sejarah yang diajarkan di kelas sekedar menuliskan nama Al-Khwarizmi sebagai penghormatan.

Hal serupa terjadi pada bidang kesusastraan. Misalnya, novel Alf Laila wa Lailah (kisah Seribu Satu Malam) sebenarnya bukan mahakarya sastra, meskipun diakui sebagai karya seni dengan kreatifitas isinya yang tinggi, tetapi salah satu tokohnya Abu Nawas (w. 810) lebih terkenal karena anekdot dan kelucuannya dari pada filsafat dan kearifannya.

Demikian pula Ibnu Thufail (w. 1185).Ia adalah pengarang novel-novel filsafat yang paling dini. Karyanya risalah Hayy Ibnu Yaqzan (Kehidupan Ibnu Yaqzan) banyak dijiplak dan cerita Robinson Crusoe karya Dafoe adalah adalah tiruan rasis darinya. Tentu saja Dafoe yang lebih terkenal di dunia sastra Barat.

Model orbit planet Copernicus yang kemudian dirumuskan dengan baik oleh Kepler dalam Hukum Kepler I, II dan III sebenarnya telah dihasilkan dari laboratorium di Maraga oleh ilmuan seperti Al-Tusi (w. 1274 M) yang kemudian diteruskan oleh Ibnu Al-Syatir (w. 1375 M) di Damaskus.

Ibnu Al-Haytsam (w. 1039 M) mempelopori penelitian tentang optika. Eksperimennya menggunakan lebih dari 27 jenis lensa. Roger Bacon, Leonardo da Vinci dan Kepler bahkan mungkin Newton telah mengambil inspirasi bahkan menjiplak dari bukunya Kitab Al-Manazhir (Kamus Optik). Sebab teori tentang mata yang bukan sumber cahaya (mirip kesimpulan Newton yang menggugurkan pendapat Euclid dan Ptolomy), hukum refleksi dan refraksi (yang lebih terkenal dengan hukum Snellius) serta pertambahan ukuran bintang dekat zenith sesungguhnya telah dirumuskan dengan baik oleh Ibnu Al- Haytsam lewat berbagai eksperimennya.

Belum lagi ilmu kedokteran. Dunia mestinya berterimakasih pada Ibnu Sina. Mereka, bangsa Barat menyebutnya dengan Ave Sena) yang telah menulis Kitab Qanun fi Al-Tibb yang berisi berbagai jenis penyakit dan pegobatannya secara komprehensif. Buku tersebut menjadi acuan selama beberapa abad kemudian dan diajarkan kepada seluruh calon-calon dokter pada saat itu.

Sampai akhir abad ke-19 tingginya ilmu pengetahuan kedokteran sumbangsih para dokter muslim terlihat saat para calon dokter di Prancis harus mendapatkan surat izin praktek dari Kepala Dokter Muslim di Tunisia. Tapi kemudian pemerintah kolonial Prancis melarang keras tindakan tersebut. Eropa berusaha menghapuskannya dengan alasan mengangapnya rendah hanya karena dokter mereka harus merunduk ke Tunisia yang Islam.

Mereka Tidak Jujur Sayang seribu sayang kejayaan dan kebaikan kaum muslimin itu dicuri dan diaku-aku sebagai hasil karya Barat. Parahnya lagi, hasil karya mulia para ilmuan Muslim itu secara dihancurkan oleh para penguasa yang tidak peduli perjuangan dan pengorbanan umat Islam. Mereka lebih senang korupsi dan berkongsi penjajah Barat, yang sejak semua benci dengan Islam.

Walaupun demikian, Barat betul-betul banyak berhutang kepada Islam. Sayang mereka tak jujur atas sumbangan besar kaum muslimin itu. “Semenjak 13 abad, Barat telah menolak warisan ketiga ini, yaitu warisan Islam yang pada masa lalu mestinya dapat dan terang akan dapat mempertemukan kebudayaan Barat dengan kebudayaan-kebidayaan lainnya di seluruh dunia, ” ujar Garaudy, pemeluk Katholik yang menjadi atheis dan berakhir menjadi Muslim.

Ia menegaskan, jika saja Barat bersikap fair dan merendah, maka mereka akan menjadi bangsa yang bermartabat. ”Selain itu, warisan ketiga itu juga akan membantunya untuk merasakan dimensi-dimensi kemanusian dan ketuhanan yang telah terpisahkan selama kebudayaan Barat berkuasa secara sepihak, mengembangkan kemauannya untuk menguasai alam dan manusia. ”

Bila saja Barat mau menerima Islam, maka Barat tidak akan bernasib seperti sekarang ini:sekular, liberal, dan ambigu, dan rasial. (dina)

Selasa, 04 Desember 2007

Anugerah tak ternilai...

Tanggal 29 Oktober 2007 jam 19.15, aku tak akan melupakan saat itu. Kerjaan di kantor belum kelar, lagi 'spanneng' ngerjain laporan harian sama anggaran. Dalam hati ngomel sengomel-ngomelnya, dasar kantor pusat geblek! Masak nyuruh ngerjain anggaran pas akhir bulan, cuma dikasih waktu 4 hari lagi! Tiba-tiba handphone 'second' ku berbunyi. Kulihat sekilas dari istriku. Ada apa telp? Padahal satu setengah jam yang lalu dia habis nelpon. "Halo", kataku pelan. Diseberang sana istriku menjawab "Mas, aku sekarang di RS, pembukaan sembilan. Klo sampean da bisa pulang malam ini, besok aja gpp" klik! tutup. DEG!!!! Jantungku terasa berhenti. Kaget, bingung, dan entah kata-kata apa yang bisa ngungkapin perasaanku waktu itu. Istriku siap melahirkan! Masya Allah...

Masalahnya istriku sekarang di madiun bersama ibunya, sedangkan aku di malang. Perjalanan madiun-malang paling cepat 4 jam.

Padahal jam 17.30 tadi dia masih telp dengan santai, cerita klo barusan pulang kontrol kandungan ke bidan. Tapi sekarang sudah siap melahirkan?!! Pikiranku langsung gelap, laporan harian yang lima menit lagi rampung langsung hilang dari ingatan, aku diam, ga tahu harus ngapain. . Lima detik berikutnya aku bisa nguasai diri, aku gak mungkin bisa kerja dalam kondisi gini. Aku lari ke ruang sebelah, nemuin atasanku bilang ijin mau pulang karena istri melahirkan. Begitu dia bilang oke aku langsung ambil tas, cabut! Turun ke lantai 1 mataku nanar mencari-cari seseorang, ah ketemu. Temen dekatku lagi sibuk di gudang, aku hampiri dan tanpa buang waktu ngomong, "Nda, istriku mau melahirkan, dah pembukaan sembilan. Anterin aku ke terminal gih". Dia kaget sejenak lalu langsung tanggap ke tempat parkir. Cek mobil kantor, ah ternyata bensin pada tipis semua. "Pakai mobilku aja Nda" katanya kemudian. Aku ngikut aja.

Di mobil aku harap-harap cemas, ternyata gini rasanya istri mau melahirkan. Secara logika aku gak perlu terlalu takut karena istriku di RS yang sudah dikenal dan didampingi ayah, ibu, dan kakak-kakaknya. Tapi ternyata tidak ada sedikitpun rasa tenang di hati. Temanku menghibur, mudah-mudahan anakmu 'menunggu' kamu datang. Maksudnya kelahiran anakku setelah aku sampai disana. Aku pesimis, terngiang-ngiang kata-kata istriku tadi, pembukaan sembilan! Berarti tingal satu langkah lagi untuk melahirkan dan itu biasanya cuma butuh waktu kurang dari 1 jam. Nyampe terminal aku langsung lari ke bis terakhir jurusan jombang. Kulihat jam pukul 19.55. Disebelahku ada seorang laki-laki nanya, kujawab sekenanya. Dia bilang bis baru berangkat jam 20.15 trus nambahin klo ke madiun jam segini nyampe sana jam 1 dini hari. Kujawab agak sewot, "Mas aku biasa ke madiun jam segini, dan ga pernah nyampe terminal lebih dari jam 12 malam". Sebenarnya ngapain juga ku tanggapi omongan orang itu, mending diam. Kuambil handphone, telp kakak iparku tanya kondisi istriku. Dia jawab masih di rumah ngambil barang-barang dan bilang istriku pembukaan 3. AKu bingung mana yang benar? Aku berdoa, kubaca ayat-ayat Qur'an sebisaku, sehapalku! Jam 20.15 tepat bis mulai bergerak berangkat. Handphone kembali berdering, muncul suara kaka iparku "Sudah lahir, anakmu perempuan, 3,7 kg. Istrimu sedang dalam perawatan, tapi semua baik-baik saja". Aku diam, setengah menangis, memuji kebesaran Allah, berterima kasih atas rahmatnya. Aku sudah menjadi bapak! Alhamdulillahirobbil'lamiinn.......


Minggu, 25 November 2007

Kondisi Finansial Rasulullah

Benarkah Rasulullah miskin?
Saya sudah lama ingin menulis artikel ini, tapi baru sempat sekarang. Biasa (sok) sibuk he he. Selama ini kita sering membaca biografi Rasulullah Muhammad saw yang makannya hanya roti, jarang beliau makan daging, juga beliau pernah puasa sampai tiga hari karena tidak ada makanan di rumah beliau. Beliau juga menambal bajunya sendiri dan tidak malu memakai baju tambalan. Tempat tidur juga hanya dari pelepah korma kasar sampai kalau bangun tidur membekas di pipi. Dari kondisi tersebut kesan yang kita tangkap kemudian seringkali adalah bahwa beliau miskin. Padahal yang sebenarnya tidak demikian, Rasulullah adalah orang yang sangat kaya. Kenapa saya berani bilang "sangat"? Mungkin tidak banyak orang yang tahu kalau mas kawin Rasulullah waktu menikah dengan Khadijah adalah 100 ekor unta. Kalau dikurskan dengan nilai sekarang, jika seekor unta harganya 5 juta maka mas kawin Rasulullah jumlahnya 500 juta. Bukankah hanya orang yang sangat kaya yang mampu memberikan mas kawin sebesar itu? Pada haji wada' Rasulullah juga kembali menyembelih 100 ekor unta, yang seekor bahkan disembelih oleh Rasulullah sendiri.

Rasulullah adalah seorang entrepeneur sejati.
Rasulullah sudah menggembala kambing sejak masih kecil. Pada usia 9 tahun (menurut riwayat lain 12 tahun) beliau sudah diajak pamannya Abu Thalib mengikuti kafilah saudagar berdagang ke negeri Syiria. Pada usia 20 beliau sudah dipercaya membawa barang dagangan sendiri ke negeri Syam, Syiria, dan lain-lain. Mungkin kita mendengar biasa saja kisah tersebut, seperti juga saya dulu merasa biasa mendengarnya. Tapi coba kita telaah lebih dalam dengan membandingkan kondisi jaman sekarang. Sekarang ini kalau seseorang melakukan perdagangan antar negara, bukankah berarti dia itu seorang eksportir/importir? Mari kita bayangkan bersama, saat ini ada berapa anak-anak berusia 9 tahun yang bepergian keluar negeri untuk belajar berdagang? Kalau yang bepergian untuk rekreasi atau tamasya sih banyak dan tidak istimewa sama sekali. Tapi nabi pergi pada usia sedini itu untuk belajar berdagang!

Mari kita lanjutkan imajinasi kita. Pada usia 20 tahun nabi telah dipercaya dan berpengalaman melakukan perdagangan antar negara. Sekali lagi, ada berapa banyak pemuda berusia 20 tahun yang telah "berpengalaman" dalam ekspor impor? Saya beri penekanan pada kata berpengalaman karena saat ini juga ada pemuda yang melakukan perdagangan antar negara namun masih dalam taraf belajar. Dan itupun jumlahnya tidak banyak! Pada usia sekian bahkan masih sangat banyak yang kuliah dengan mengandalkan pasokan biaya dari orang tua.

Pada usia 25 tahun, Rasulullah sudah menjadi kepercayaan Khadijah. Dikomparasikan dengan kondisi sekarang, bukankan itu sama dengan posisi "Vice President"? Sekali lagi, ada berapa gelintir pemuda berusia 25 tahun yang sudah menjadi vice president perusahaan multi nasional? Tidak banyak bukan? Dalam posisi demikian, mustahil Rasulullah berpenghasilan kecil.

Kehidupan sehari-hari Rasulullah
Pola hidup sehari-hari Rasulullah sebenarnya juga mencerminkan bahwa beliau adalah orang yang cukup secara ekonomi. Beliau rutin meminum madu minimal 1 sendok setiap hari. Makanan kesukaan beliau adalah kurma ajwa, yang harganya (sekarang) antara 500 - 600 ribu rupiah per kg. Kalau kita di Indonesia berzakat fitrah dengan beras 2,5 kg atau kurang lebih setara 15 ribu rupiah, maka zakat fitrah rasulullah adalah 2,5 kg kurma yang biasa dimakan beliau yaitu kurma ajwa. Berarti zakat beliau setara 1 juta 250 ribu rupiah! Bandingkan perbedaannya dengan zakat fitrah kita. Beliau sangat rajin bersodaqoh dan tidak ada kisah yang menyebutkan beliau mempunyai hutang. Kalau ada tamu, jamuan yang diberikan selalu lebih dari cukup dan hal tersebut pernah dikisahkan oleh tamu beliau. Beliau juga mampu mencukupi kehidupan istri-istri beliau yang lebih dari satu dan tidak ada satu kisahpun yang menceritakan ada istri beliau yang bekerja mencari nafkah tambahan.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah Rasulullah tidak miskin tapi beliau memilih gaya hidup sederhana, dimana hartanya lebih banyak digunakan untuk perjuangan agama daripada hidup bermewah-mewah. Beliau tidak bisa makan enak sedangkan ada kaum muslimin yang kelaparan. Sang Al-Amin mencintai ummatnya lebih dari dirinya sendiri. Mengutip penuturan muballigh kondang ustadz Zainuddin MZ, ada satu doa yang sering di panjatkan Rasulullah: "Ya Allah, hidupkan aku dalam kondisi miskin, matikanlah aku dalam kondisi miskin, dan kumpulkanlah aku di akhirat dengan orang-orang mskin". Tidak mungkin seorang yang miskin memanjatkan doa seperti itu bukan? Saatnya kita belajar meneladani gaya hidup manusia paling mulia tersebut, semoga Allah mencatatnya sebagai amal ibadah, amin.


dikutip dari berbagai sumber

Berkah Menepati Janji

Contoh Kecil Berkah Menepati Janji Sudah beberapa hari ini putriku yang kedua merengek minta diantar pakai motor. Bibirnya monyong saa...